RasaKata: Ini Tentang Tanah oleh Iman Usman

Dalam memperingat Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71, Unmasked kembali mengadakan open mic yang diselenggarakan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 27 Agustus.

Tema malam itu, “Ancestry”, atau leluhur.

Salah satu guest poets yang diundang adalah Muhammad Iman Usman, pendiri ruangguru.com, sebuah marketplace online yang menghubungkan guru privat dan pelajar di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Iman membacakan karyanya yang berjudul Ini Tentang Tanah, yang mendapat sambutan meriah dari penonton yang hadir.

Puisi ini juga diiringi oleh alunan musik karya Gardika Gigih berjudul Hujan.


Ini tentang tanah.

Tanah berisi 242 juta manusia yang katanya bukan hanya paling bahagia di bumi ini tapi juga paling kaya.

Kaya karena punya sumberdaya yang tak akan habis dari generasi ke generasi

Kaya karena mereka tinggal di surga bersama ‘imagined society’, komunitas terbayang

Komunitas yang katanya bicara 300 bahasa, disatukan oleh satu bahasa pemersatu yang hanya jadi bahasa Ibu bagi 7% dari mereka.

Tapi kini apa jadinya?

Ada yang berbeda. Untuk hal ini, aku tak perlu gunakan mesin pencari untuk cari tahu.

Aku tahu, karena Aku bagiannya.
Hal yang tidak perlu gelar doktor untuk mengetahuinya, karena kita, kita di sini, hidup dan bernafas dengannya setiap hari.

Ada 4.1 milyar tweet diunggah di tanah ini dalam 1 tahun.
Cukup untuk bilang bahwa orang-orang di sini suka bicara – meskipun kadang mereka bicara sendiri.
Mereka suka bicara, tapi diam ketika ada anak gadis diperkosa.

Ini tentang tanah.

Tanah yang tak peduli jika orang-orangnya habiskan 20 jam sehari untuk bekerja, untuk raih apa yang kaum 1% habiskan untuk secangkir kopi.

Tanah ini tak peduli, jika ada Nenek Minah dihukum 1 tahun 15 hari dipenjara hanya karena mencuri 3 biji coklat, padahal pemimpinnya bersalah karena ambil uang rakyat – namun tak dihukum, tak seharipun.

Disini negeri di mana mereka hancurkan gereja, dan biarkan yang kaya hancurkan yang miskin

Yang kaya bisa habiskan 20 juta tanpa pikir untuk sebuah tiramisu, tapi habiskan berjam-jam menawar untuk kain batik seharga 200 ribu yang dibuat oleh Ibu tua yang habiskan 2 minggu untuk membuatnya.

Tanah ini tak peduli.

Di tanah ini

Apa yang penting tak lagi penting, apa yang benar tak lagi benar.

Apa yang penting adalah bagaimana citra di mata orang, dan apa yang benar tak lagi sejalan dengan yang adil.

Tanah ini tak peduli, seperti kita.

Kita senang untuk terlihat kuat, punya harapan, meski kadang orang juga beraharp banyak dari kita

Kita senang untuk gemborkan apa yang kita capai tapi lupa apa yang kita lemah.

Kita lupa bahwa tak ada yang salah dengan menjadi rentan.

Tak masalah untuk punya masalah

Untuk akui bahwa kita tak selalu ok

karena kita lebih besar dari masalah kita

Aku tahu, kau tak peduli, tapi aku peduli.

Satu pesanku, cintai, cintai dirimu.

Seseorang berkata padaku, bahwa cinta adalah bentuk dorongan.

Tak salah dong jika aku berpikir bahwa mencintai dirimu juga adalah bentuk dorongan.

Dorongan untuk mengakui kekuranganmu dan tak lagi bersembunyi di balik topeng.

Dorongan untuk jadi dirimu yang utuh.

Tanah ini tak peduli, tapi hai!

Kamu seperti Aku, sama-sama punya mimpi untuk jadi besar.

Aku terlalu muda untuk menasehatimu, tapi jika ada yang kupelajari dalam hidup, jujurlah!

Jujurlah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s