Mengenang satu dekade Pram lewat ‘Bunga Penutup Abad’

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” ucap Nyai Ontosoroh lembut kepada Minke. 

Penggalan kalimat pendek buah pena Pramoedya Ananta Toer tersebut menggaung teduh ke telinga penonton, terkenang hangat di hati, di auditorium Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu malam, 24 Agustus, saat gladiresik pementasan teater Bunga Penutup Abad berlangsung.

Pementasan yang merupakan persembahan dalam mengenang 10 tahun meninggalnya Pramoedya ini menghadirkan sosok Minke (Reza Rahadian), Nyai Ontosoroh (Happy Salma), Annelies (Chelsea Islan), Jean Marais (Lukman Sardi), dan May Marais (Sabia Arifin) dengan mengangkat kisah yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang merupakan bagian dari mahakarya legendaris tetralogi Pulau Buru.

Pram menulis Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, juga dua novel lainnya yakni Rumah Kaca dan Jejak Langkah saat ia di penjara di pengasingan Pulau Buru, Maluku.

Keempat novel yang dikenal dengan sebutan “Tetralogi Buru” tersebut terbit dari 1980 hingga 1988 dan kemudian dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa.

Meskipun demikian, Tetralogi Buru yang mengungkapkan sejarah keterbentukan nasionalisme pada awal kebangkitan nasional ini, membuat Pram mendapatkan banyak penghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri, bahkan pernah dipertimbangkan untuk Nobel Sastra.

Adapun Bunga Penutup Abad mengambil penggalan kisah Tetralogi Buru tentang kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian Annelies ke Belanda.

Seluruh aktor dan aktris benar-benar memberi penampilan yang maksimal untuk masing-masing tokoh yang diperani. Ketegasan Nyai Ontosoroh dalam memperjuangkan hak pribumi, logat khas orang Eropa saat berbahas melayu oleh Jean Marais, raut muka gelisah Minke, dan kepolosan karakter Annalies; semuanya benar-benar ditampilkan secara maksimal oleh masing-masing aktor dan aktris.

Setting panggung dan kostum para tokoh Bunga Penutup Abad ini pun sangat sesuai dengan deskripsi yang dituliskan oleh Pram dalam bukunya.

Teater Bunga Penutup Abad yang digelar selama tiga hari, tanggal 25, 26, dan 27 Agustus 2016 di Gedung Kesenian Jakarta ini terselenggara atas inisiatif Titimangsa Foundation yang bekerja sama dengan Yayasan Titian Penerus Bangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Mengangkat novel karya sastrawan besar Indonesia ke atas panggung memiliki tantangan tersendiri dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya dicoba untuk mengadaptasi Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa sehingga menjadi satu naskah yang utuh. Saya juga mengapresiasi para pemain yang berkomitmen untuk latihan intensif sehingga bisa menampilkan kemampuan maksimal mereka di atas panggung,” ujar Wawan Sofwan, sutradara pementasan Bunga Penutup Abad.

Indonesia akan terus mengenangmu, penulis besar putera bangsa Pramoedya Ananta Toer, sampai jauh, jauh di kemudian hari.


Teks dan foto oleh Nariswari Yudianti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s