Cerita Perempuan: Satu Malam Saja

on

Duduk terdiam dengan segelas cocktail, saya duduk di lounge hotel mewah ini. Datanglah sosok yang tidak asing bagiku. Sosok seseorang yang kukenal sejak lama. Sosok yang telah berubah dari seorang atasan atau bos menjadi sosok teman.

Transisi tersebut terjadi di kala seringnya kami berpapasan di tempat-tempat umum. Tidak pernah sekali pun kita janjian untuk bertemu, namun setiap tidak sengaja bertemu selalu ada canda dan lontaran ajakan untuk duduk dan ngobrol.

Kali ini tidaklah berbeda. Dia pun menyelesaikan meeting-nya dan kita ngobrol setelahnya. Tidak terasa 5 jam berlalu. Malam sudah menyambut pagi. Karena sudah larut, kami pun bergegas pulang. Pulang ke tempat masing-masing.

“Aku hubungi sopir aku, ya,” ucapku kepadanya.

Tidak disangka Pak sopir pun membalas pesanku dengan mengatakan bahwa jalan akses untuk pulang sedang ditutup dan baru akan dibuka kembali pukul 3 pagi.

Hatiku berhenti sesaat. Dicampuri dengan rasa kaget, senang, dan bimbang aku berkata kepadanya sambil menunjukan handphone-ku ke dia, “Jalan akses pulang ditutup sampai jam 3 pagi!”

Dia pun bilang kalau lebih baik ditunggu saja dan akan menemaniku. Berlanjutlah pembicaraan kita. Canda tawa dan tatapan mata berlangsung selama satu jam ke depan. Hingga akhirnya dia berkata padaku, “Nunggu di apartemen aja, yuk, di atas sambil nonton TV, jadi bisa lebih santai and selonjoran.”

Tidak pakai mikir lagi, aku langsung jawab, “I’m not going into your room”. Dia pun menjawab, “Not my bedroom. Kan apartemen, ya di ruang tamu aja. Enggak usah masuk kamar.”

Beranjaklah kita menuju ke atas. Sesampainya di atas kami lanjut ngobrol lagi di ruang tamu apartemen yang dia sewa untuk beberapa hari karena meeting agenda yang padat di seputar hotel dan mall di sini.

Dia pun menyentuh tanganku. Dengan alasan dia mau ngeramal aku. Oh my Goodness! Masih zaman ternyata trik ramalan ini. Dengan frontalnya akupun langsung memergokinya dengan berkata, “Are you flirting with me?

Sedikit gila rasanya aku mengatakan itu kepadanya. Karena dia ini mantan bosku. Dulu aku kerja sama dia jadi anak buahnya. Memang mantan bosku ini masih muda dan dia pun nyambung banget kalau diajakin ngobrol tentang apapun. Aku tidak bisa berbohong, dari sejak di bawah ngobrol berjam-jam sampai lupa waktu, aku pun sudah tertarik dengannya.

Tatap mata yang dalam dia bengong sambil senyum ditanyain if he was flirting.

And then we kissed.

Sudah tiga hari berlalu hanya satu pesan yang kita tukarkan. Tidak ada kelanjutan apa-apa. Seolah semua yang telah terjadi dan obrolan kita yang seru itu tidak pernah terjadi.

Satu malam yang tidak bisa menghilang dari benakku. Satu malam yang sangat ingin kulupakan, namun aku tidak berhenti mengharapkan. Will there be another night? 

From my truthful lips,

Ellise

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s