Yang Melekat Dari Pertemuan Saya dengan Ade Rai

Ade Rai mengajarkan saya bahwa tak selamanya kekerasan dapat diselesaikan dengan otot. Tak sedikit kaum lelaki berpendapat dapat menyelesaikan masalah dengan beradu fisik. Pria-pria berbadan besar tahu akan hal itu.

Badan besar, tenaga besar. Tinggal gebok, masalah selesai.

Bukan, bukan itu. Yang ada malah akan menimbulkan masalah baru. Lelaki berotot besar yang berjalan petantang-petenteng suka menganggap dirinya adalah yang terkuat. Sering kali mereka jadi besar kepala. Tak sedikit pria-pria di dunia ini yang beranggapan demikian.

Namun meski tegap tinggi dan otot-ototnya menyembul dari setiap lekuk tubuhnya, Ade Rai tidak besar kepala. Ia lebih dari sekadar binaragawan.

Ketika saya mengikuti pelatihan personal trainer di Rai Institute tahun lalu, saya berkesempatan untuk bertemu dengan pria kelahiran 6 Mei 1970 ini. Pada hari itu, ia memberikan wejangan kepada para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara yang ingin memiliki karier di industri fitness.

Topik yang ia bicarakan saat itu sedikit berbeda dari pembahasan yang biasa ia bawakan. β€œAda yang pernah bilang ke saya, kok sekarang Ade Rai suka berfilosofis?” kata Ade.

Topiknya masih sama, tentang fitness, tapi cara penyampaian dan pesan yang ingin disampaikan yang berbeda. Belakangan, juara Musclemania World Professional 2000 ini memang terlihat membicarakan bukan hanya perihal fitness, tapi juga tentang hidup. Apa relevansi fitness terhadap kehidupan.

Dalam salah satu status media sosialnya, Ade pernah bertanya kepada pengikutnya, β€œApa bedanya prinsip hidup dan prinsip pengencangan otot?” Jawabannya, β€œYang satu belajar jauh dari beban (non-resistance), yang satu dekat dengan beban (it’s all about resistance).”

Atau saat ia menyandangkan disiplin dalam berolahraga dan menyikat gigi.

β€œKetika saya berolahraga setiap hari, dikatakan saya adalah orang yang konsisten dan disiplin, seolah ada nilai prestasi di sana. Namun uniknya ketika saya mandi dan sikat gigi setiap hari tidak ada satu pun yang memuji saya sebagai orang yang disiplin dan konsisten. Hal ini tak lepas dari ‘kesadaran bersih’ yang sudah tinggi, bahwa menjadi bersih adalah kontribusi pada diri sendiri, bukan signifikansi yang ingin ditunjukkan pada orang lain bahwa β€˜Saya bersih lho’. Berbeda dengan ‘kesadaran sehat’ kita yang masih rendah.”

Yang Ade utarakan pada saya dan belasan peserta lain saat itu, hampir mirip dengan ucapan-ucapannya sebelumnya. Tapi ada satu hal yang melekat pada saya.

Pada dasarnya, jika ingin menjadi sukses, menurut Ade, dalam bidang apapun, kesampingkan ego. Leave your ego at the door. Tak terkecuali dalam bidang fitness dan kesehatan.

Ia memberi contoh yang sangat menyentil para praktisi fitness. β€œAda dua cara agar membuat orang terlihat besar,” ucap Ade. β€œYang pertama adalah membesarkan badan. Yang kedua adalah mengecilkan kepala.”

Intinya, besarkan badan, kecilkan kepala.

β€œCara saya adalah mengecilkan kepala, agar badannya terlihat besar,” ujar Ade, yang pernah menyabet gelar Mr Asia pada 1995 ini.

Tidak ada tempat untuk berego tinggi. Tidak dalam dunia binaraga. Tidak dalam pekerjaan profesional, pertemanan, apalagi kekeluargaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s