Jomblo Metropolitan: Antara Angan dan Ingin

“Enggak, minum kopi lagi, Kak?” barista Starbucks langganan itu bertanya.

“Enggak, Mba. Nanti enggak bisa tidur,” jawabku.

Hari-hari ini aku mengalami susah tidur. Entah mengapa. Mungkin karena terlalu banyak kafein yang kuteguk di pagi dan siang hari. Mungkin karena pikiran terlalu lelah. Mungkin karena kamu masih menghantui malam-malamku. Aku tak tahu.

Semalam aku bermimpi tentang kamu lagi. Ini kemunculanmu yang kedua dalam mimpi-mimpiku. Apakah kamu juga merindukanmu? Tapi aku sangsi.

Kau tampak bahagia dengan calon suamimu. Setidaknya itu yang kulihat dari lini masa Instagrammu. Menghabiskan hari demi hari berdua. Awal sebuah perjalanan panjang kalian.

“Bagaimana kalau aku AADC2-in kamu?” tanyaku.

“Maksud kamu?”

“Ya, aku kembali ke hidupmu dan membatalkan tunanganmu dengan si dia.”

Kamu hanya terdiam. Lalu tersenyum. Aku mencoba mengartikannya tapi aku seorang pengecut yang takut berjudi dengan perasaan, meski hanya dalam mimpi.

“Orangtuaku juga tak begitu menyukainya.”

Seketika hatiku melonjak kegirangan.

“Dia lelaki yang angkuh. Menganggap aku bisa dibelinya.”

“Mengapa kau tidak tinggalkan saja dia?”

“Aku tak berani.”

“Kenapa?”

“Sejak putus dari pacar pertamaku, kau langsung menyatakan cintamu kepadaku. Setelah kau melepaskanku, hanya dua hari sebelum ulang tahunku, aku dibuat sibuk oleh kuliah. Lalu, aku mendapat pekerjaan pertamaku. Dan dia datang. Aku tidak pernah benar-benar sendiri selama ini.”

“Aku di sini sekarang.”

Aku meraih tangannya. Dingin.

“Tubuhmu hangat,” ucapnya. Matanya menatap jauh ke dalam jiwaku.

“Kamu masih ingat pertama kali aku menggenggam tanganmu di pinggir Sungai Yarra, di musim dingin itu?”

“Ya, tentu saja. Tubuhmu hangat, meski malam itu aku menggigil kedinginan. Kau bilang, kau penuh kehangatan. Aku cuma tertawa mengejek. Gombal sekali, pikirku.”

Tetiba, ia mengecup pipiku. Sudah bertahun-tahun aku merindukan bibirnya menempel di kulitku.

“Pulanglah.”

Pulang bagiku adalah kembali ke pelukanmu. Rumah yang kuimpikan. Kenyamanan yang tertukar dengan kecerobohan. Rumah yang kini sudah terjual dan didiami oleh penghuni baru.

Ia yang tak pandai bermimpi tak bisa membedakan antara angan dan ingin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s