Jomblo Metropolitan: Buku Puisi Rangga dan 8 Tahun Lalu

Sembilan tahun yang lalu, pemilik koran komunitas tempat saya bekerja menepuk pundak saya saat akan memulai rapat redaksi.

“Eh, Wi. Gue baru beli albumnya Jason Mraz, nih. Abis baca review lo,” katanya.

“Oh ya?” tanya saya surprised. Sebagai seorang mahasiswa tahun pertama dan pekerja media part-time, saya merasa tersanjung dan senang sekaligus.

“Ternyata ada yang baca tulisan gue!” pekik saya dalam hati.

Terlebih, selain dibaca, ulasan singkat itu dijadikan bahan pertimbangan oleh si pembaca untuk mengambil sebuah keputusan, meski hanya sesederhana membeli sebuah keping CD.

Saya masih ingat ketika saya menggemari setiap lagu dalam album berjudul We Sing. We Dance. We Steal Things.

Ketika itu Mraz belum menjadi musisi populer seperti sekarang. Album ketiganya itu yang meroketkan karirnya berkat singles seperti I’m Yours dan Lucky — yang banyak membuat para cowok dan cewek baper karena memiliki perasaan terpendam pada sahabat mereka.

Sejak saat itu saya sadar, this is what I want to do for the rest of my life. Menjadi seorang penulis. Bahkan meski saya mengambil jurusan bisnis manajemen, saya pun banting setir menjadi wartawan usai lulus kuliah dan melanjutkan hobi saya sebagai penulis yang dibayar.

Sekarang, sembilan tahun kemudian, saya diingatkan kembali atas sebuah momen kecil itu.

Seorang fotografer fitness memberi tahu saya jika ia baru saja membeli buku kumpulan puisi dan foto dari film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2), karena saya tak pernah berhenti membicarakannya dan mempromosikannya di media sosial.

Ia tidak membeli satu buku, tapi dua sekaligus! Padahal di toko buku itu, cuma tersisa 3 buku. Maklum, sejak pertama kali diluncurkan, buku berjudul Tidak Ada New York Hari Ini langsung ludes terjual sebanyak 5.000 eksemplar. Sekarang buku ini sudah dicetak tiga kali.

Lihat saja lini masa Instagram saya, isinya foto-foto dan video yang terinspirasi dari puisi-puisi karya penyair asal Makassar itu, Aan Mansyur.

Ada perasaan gembira ketika apa yang kita bagikan di media sosial ternyata diperhatikan oleh orang lain. Apalagi jika orang lain itu menjadi terinspirasi oleh apa yang kita unggah.

Sang fotografer berkata kepada saya, “Baru ini buku puisi bagus. Padahal saya enggak pernah suka buku puisi. Kaku. Bahasanya berat.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s