Jomblo Metropolitan: Bagai Menemukan Cinta di Tempat Tak Terduga

Pernah merasa kekurangan uang, namun ketika kamu merogoh kantung celana, kamu menemukan selembar Rp 50 ribu?

Sore itu saya bergegas menuruni tangga jalan menuju kantin. Biasa, perut keroncongan dan badan mulai lemas menjelang jam pulang kantor.

Tanpa sengaja saya menekan tombol “play” pada iPod mini di balik celana jeans biru belel yang saya sudah kenakan berhari-hari.

Saya pikir iPod itu masih menyetel lagu terakhir yang saya mainkan sebelumnya. Tapi bukan. iPod kecil itu memainkan sebuah lagu relatif lama yang sudah tak menghampiri sepasang telinga ini bertahun-tahun lalu.

Tanpa disadari saya memencet tombol shuffle.

Seketika mood saya di sore itu berubah. Dari yang mumet dan berantakan seperti kabel earphone yang tergulung akibat disimpan di dalam terlalu lama, menjadi cerah dan berwarna layaknya es krim Paddle Pop.

“I was unafraid, I was a boy, I was a tender age.”

Suara smooth Justin Vernon mulai mengalun merasuki kuping kanan dan kiri saya.

Pikiran sontak melayang ke masa lalu, masa di mana langit biru terhampar luas di pandangan. Lompat dari tebing, nyebur ke dalam kolam dengan air berwarna biru yang dingin.

Selagi memesan makanan pun pikiran tetap melayang ke tempat lain.

Lalu saya duduk menanti pesanan datang. Dada ayam bakar bumbu sereh menu sore itu.

Lagu pun berganti. Lebih menghentak dengan riff guitar dan gebukan drum bertempo cepat.

“I was looking for the upsides to these panic attack nights.”

Salah satu lagu pop punk favorit dari The Wonder Years semasa mengerjakan thesis akhir semester zaman kuliah dulu.

Kemudian petikan gitar mellow Noah Gundersen dengan Winter-nya menggantikan suara serak Dan “Soupy” Campbell.

Lou Reed, Patsy Cline, Jason Isbell, gantian men-serenade saya yang asyik dengan dunia sendiri.

Padahal beberapa hari sebelumnya, saya sempat merasa bosan dengan koleksi lagu yang saya miliki dalam iPod. Menunggu rilis album-album baru tahun ini untuk menambah daftar lagu favorit hingga panjang. Kemarin juga saya search di Google, “Albums released in 2016”, kiranya ada album baru yang kelewatan. Tapi kok, rasanya ada yang kurang pas. Masih belum menemukan yang cocok dengan selera hati (dan telinga tentunya).

Bahkan Views, album keempat dari rapper asal Toronto, Drake, gagal memuaskan nafsu saya akan musik baru. Lagu-lagu dalam Views terkesan monoton dan kurang greget. Memang sih, Drake mencoba untuk lebih jujur dengan perasaannya sendiri ketika membuat album ini. Makanya liriknya terasa lebih personal. Tapi hentakkan dan beat-beat keren seperti di album-album sebelumnya hilang. Enggak ada lagi catchy choruses seperti di Started From the Bottom Now We Here atau Hold On, We’re Going Home.

Anyway… Mendengarkan iPod shuffle itu merupakan sebuah kebiasaan yang jarang, atau bahkan tidak pernah, saya lakukan. Saya itu orangnya “yang pasti-pasti aja”. Jadi, pilihan saya biasanya hanya mendengarkan lagu berdasarkan urutan artis atau albumnya. Paling banter mendengarkan playlist yang saya bikin sendiri.

Kalau mendengarkan lagu shuffle, ada surprise element yang terkesan “menakutkan” buat saya. Bagaimana kalau saya tidak suka lagu ini? Duh, repot harus tekan tombol next.

Sama seperti berpacaran, saya itu paling malas untuk memulai sesuatu yang baru. Jika sudah merasa nyaman, saya akan bertahan dengan kenyamanan tersebut.

Begitu pula dengan lagu-lagu shuffle. Lagu yang terdengar baru, butuh waktu untuk bersahabat dengan telinga saya. Ya macam pacaran, istilahnya perlu PDKT dulu.

Perlu waktu untuk mengenal lagu itu. Melodinya, liriknya, strukturnya, komposisinya. Dengerin lagu aja repot amat, ya?

Kira-kira demikian pula dengan PDKT kepada gebetan. Kita perlu mengenal lebih jauh si dia. Di mana rumahnya, apa saja kegiatannya, apa makanan favoritnya, apa yang membuat dia sebal, apa yang paling dia suka, dan sebagainya.

Tapi, mendengarkan iPod shuffle kali ini memberikan nuansa yang berbeda. Rasa takut akan sesuatu yang asing itu tidak muncul. Mungkin ia ngumpet di balik lubuk hati. Mungkin ia merelakan agar perasaan lain bisa tumbuh.

Saya dibuat relaks, nrimo. Sudah, terima saja apa yang disajikan di hadapanmu. Enggak usah terlalu dipikirin, nikmati aja. Kira-kira begitu hati kecil saya berbicara.

Saya pun menuruti bisikan dalam hati itu. Mencoba meresapi setiap lirik yang dinyanyikan, mendengarkan dengan baik melodinya.

Sesaat hari saya berubah. Saya seperti menemukan selembar Rp 50 ribuan di kantong celana yang dipungut dari mesin cuci.

Or even better… Saya bagai menemukan cinta di sebuah tempat yang tidak terduga.


Follow Qowi di Twitter dan Instagram @aqbastian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s