Cirebon With Style

Pantang bagi saya untuk menolak setiap ajakan weekend getaway, meskipun cuma satu hari. Berangkat Sabtu, pulang Minggu.

Ya, lumayan lah untuk menghindari kemacetan ibu kota yang semakin hari semakin membuat rambut ini rontok. Tapi sebenarnya, macetnya Jakarta itu masih bisa ditolerir jika ditemani oleh someone special. Syukur-syukur macet setiap saat, setiap jam, setiap menit, setiap detik, supaya bisa berlama-lama di dalam mobil dengan si dia.

Ah, sudah mulai lebay nih. Baiklah, kembali ke lap… top! Eh, maaf. Saya bukan Tukul Arwana. Mirip pun tidak. Mari balik ke topik awal, jalan-jalan ke Cirebon.

Jadi, beberapa waktu lalu saya bersama seorang kawan, Tiffin, diundang ke Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Selain Tiffin, termasuk dalam rombongan 3 orang wanita lagi yang berangkat bersama. Boleh dibilang saya orang yang paling ganteng dalam kelompok itu, ya secara laki-laki sendiri. Tapi kesendirian saya tak mengurangi serunya perjalanan ini.

image (5)
Perajin batik tulis di Cirebon.

Selama satu hari penuh, rasa penat dan stres yang tercipta kala di kota metropolitan, lenyap seketika. Kebetulan kami berlima memiliki minat dan tujuan yang sama dalam perjalanan ini: Yaitu mencicipi kuliner khas Cirebon dan belanja. Khusus untuk hari itu, diet sama sekali enggak terdaftar dalam memori saya.

Kami berangkat ke Cirebon dengan naik kereta dengan jam keberangkatan paling pagi. Sampai di Stasiun Cirebon, mobil sewaan sudah menunggu dan siap untuk mengantar kami muter-muter kota yang terkenal dengan makanan enak dan batiknya.

Dengan dandanan super stylish, Pak Sopir bertingkah layaknya seorang tour guide. Mungkin dia sudah mempunyai feeling bahwa tamu-tamunya hari ini adalah para pencinta fashion, jadilah ia berpakaian rapi untuk menyambut kami. Ya, walaupun kegantengan saya masih belum terkalahkan, sih.

Pemberhentian pertama kami adalah sebuah restoran sederhana yang menyajikan makanan khas kota Cirebon, sate kambing muda dan empal gentong Haji Apud. Jujur, pertama kali melihat tampilannya, saya enggan untuk mencobanya. Tapi begitu suapan pertama menyentuh lidah, duh sayang sekali untuk tidak lanjut.

Sate kambing mudanya menggugah selera dengan irisan bawang dan cabe rawit, bikin rasanya makin cuss! Atau kalau kata presenter Melanie Ricardo, “Cucok!” Apalagi buat saya yang pencinta “daging muda”, makin mantap lah khasiatnya sebagai obat anti-aging alami ha ha ha.

image (2)
Ragam jenis batik khas Cirebon.

Selesai menikmati yang “muda-muda”, kami melanjutkan perjalanan ke Pusat Batik Trusmi. Segala macam batik mulai dari fesyen hingga aksesoris rumah tangga yang berbau kerajinan asli Indonesia dapat kamu temukan di sini.

Satu yang menarik perhatian saya adalah batik tulis. Memang jika dibandingkan dengan batik cap, harga batik tulis relatif lebih mahal dikarenakan proses pembuatannya yang lebih sulit. Warna-warnanya pun berpadu sangat serasi. Rasanya terlihat chic dan fashionable, apalagi jika mengenakan batik kemeja lengan panjang.

Kami pun terus menyusuri desa penghasil batik ini. Sesekali jika terlihat bangunan bergaya vintage, kami mampir sebentar untuk mengambil gambar demi eksistensi di media sosial.

image (8)
Batik khas Cirebon ini terlihat ‘chic’ dan ‘fashionable’ jika pintar memadumadankannya

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan perut pun sudah mulai minta diisi cemilan karena sisa kalori kambing muda sudah terbakar akibat berjalan kaki di sepanjang desa. Sebuah warung sederhana yang menyediakan es campur oyen, lotek, tahu gejrot, dan bakwan tak luput dari “jajahan” kami.

Sebagai makanan pembuka cemilan sore itu, bakwan yang rasanya baru keluar dari penggorengan habis kami lahap. Padahal jika berada di Jakarta, saya tidak berani menyentuh goreng-gorengan. Tak berapa lama, datanglah lotek, tahu gejrot, dan es campur oyen seperti sebuah paket makanan siap saji. Dan hanya dalam beberapa menit saja, semua makanan tersebut sudah berpindah ke perut kami.

image (9)
Nikmatnya es oyen jadi pelepas dahaga di tengah teriknya panas matahari Cirebon.

Next stop: Hotel untuk beristirahat sejenak sebelum jam makan malam. Sebuah butik hotel bergaya minimalis menjadi pilihan kami untuk bermalam.

Anehnya, yang ada di pikiran kami hari itu hanya makan, makan, dan makan.

Mampirlah kami ke Nasi Jamlang Bu Nur sebagai destinasi kuliner malam itu. Di sana terdapat beberapa pilihan menu yang dapat dipilih dan diambil sendiri sesuai selera. Panjangnya antrian dan banyaknya jumlah makanan yang telah habis menandakan restoran ini memiliki rasa yang sedap dan diminati banyak orang.

Saya memilih untuk mengambil dua porsi nasi putih dengan tambahan pilihan menu sayur daging dan tauco, plus tambahan dua tempe bacem.

image (7)
Tahu gejrot pun habis dilahap dengan cepat.

Jreng, jreng, jreng! Enak sih makanannya, nikmat. Tapi … mata saya jatuh pada sebuah, atau tepatnya, seekor lalat hitam di genangan kuah tauco. Kontan langsung lenyap nafsu makan saya. Mungkin ini pertanda harus berhenti makan untuk hari itu.

Tapi, untuk makanan penutup, kami memesan setangkap roti bakar kampung khas Cirebon dengan rasa cokelat-strawberry.

image (11)
Awas, jangan salah sebut ya!

Waktu berlalu begitu cepat, dikarenakan perjalanan ini begitu menyenangkan. Keesokkan paginya kami bersiap untuk kembali ke Jakarta. Sambil menunggu kereta datang, kami pun menutup perjalanan Cirebon With Style ini dengan makan siang Mie Koclok Jatimerta (Awas, jangan salah sebut!), yang tepat berada di samping stasiun.

Saking nikmatnya, saya sampai menghabiskan dua mangkok mie berkuah santan ini. Bagaimana denganmu, daerah mana yang menjadi lokasi favoritmu untuk mencicipi kuliner khasnya?


Teks dan foto oleh: Erfan Haryando

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s