HIV/AIDS bukan halangan saya untuk menjadi fit

“Wah, tapi kamu terlihat sehat, kok!”

“Bukannya kalau sudah terkena virus itu badan jadinya kurus, ya?”

“Jangan-jangan kamu bohong dan cuma sekadar mencari sensasi.”

Begitulah beberapa reaksi yang kerap saya jumpai setiap kali “come clean” mengenai status HIV saya.

Stigma yang diberikan masyarakat terhadap mereka yang memiliki kondisi ini (saya memilih kata “kondisi” dan bukannya “penyakit”) memang masih melekat. Masih banyak yang mengira virus ini dapat tertular dengan sentuhan, berbagi makanan, dan sebagainya.

Begitu pula dengan potret orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Berdasarkan pengalaman pribadi, banyak yang mengira seseorang dengan kondisi ini pastilah kurus, lesu, pucat, dan lemas.

Oh, saya tidak mengatakan kondisi saya sekarang tidak memiliki tantangan tersendiri. Dengan kondisi seperti ini, saya harus berhati-hati benar dalam menjaga makanan, harus minum air putih yang cukup, istirahat, dan juga menghindari rokok, alkohol, dan mengonsumi bahan-bahan kimia yang tak baik bagi tubuh.

Namun, saya kadang-kadang jengah juga bila terlihat capek sedikit, lalu beberapa teman akan mengaitkannya dengan kondisi saya (walau sebetulnya saya senang juga dengan perhatian mereka).

Seperti yang Anda bisa tangkap dari komentar-komentar di atas, kebanyakan orang tidak ada yang menyangka seorang ODHA bisa terlihat (dan sebenarnya memang) sehat.

Saya cukup beruntung karena kondisi ini terdeteksi sejak awal sehingga bisa ditangani dengan baik.

Saat ini, saya masih pergi ke pusat kebugaran dan beraktivitas seperti biasa. Tidak ada bedanya dengan mereka yang HIV negatif.

Memang, saya masih berada dalam kategori overweight. Tapi ini merupakan sebuah kemajuan dari saya yang dahulu. Kondisi tubuh saya sekarang sudah lebih membaik (baca: terurus) dibanding dengan pola hidup sebelumnya yang merokok seenaknya, makan serakusnya, dan sering kurang tidur.

Setelah saya menuliskan beberapa pengalaman sendiri di blog pribadi, di situs Magdalene.co, dan juga situs komunitas Bali Peduli, saya memperoleh surel-surel yang mengatakan para pembaca melihat saya sebagai seseorang yang sehat dan tidak terlihat sebagai ODHA sama sekali (padahal kenyataannya banyak kok ODHA yang seperti saya).

Kemudian sebuah bohlam berpijar di atas kepala saya: Kenapa tidak mencoba untuk membuktikan lebih jauh? Kenapa saya tidak memperlihatkan kalau tubuh seseorang yang memiliki kondisi ini juga bisa sehat dan terlihat menarik?

Berawal dari perbincangan saya dengan editor Rappler Indonesia, Abdul Qowi Bastian, saya pun tertarik untuk melakukan sebuah eksperimen dengan kondisi saya sekarang selama 12 pekan ke depan.

Kenapa 12 pekan? Karena perubahan dalam tubuh seseorang baru akan terlihat atau terasa jika seseorang sudah menjalani aktivitas berolahraga selama minimum 12 minggu. Dan inilah yang ingin saya jalani.

Apakah saya bisa membuktikan bahwa saya masih bisa bersaing dengan pria-pria lainnya di pusat kebugaran?

Saya akan menuliskan perjalanan saya selama minggu-minggu ke depan untuk membuktikan hal ini. Wish me luck! 


Amahl S. Azwar adalah penulis lepas yang kini tinggal di Shanghai, Tiongkok.

Sebelumnya diterbitkan di Rappler.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s