Belajar tentang Kegagalan dan Kegigihan dari Leonardo DiCaprio

Akhirnya, Leonardo DiCaprio berhasil membawa pulang Piala Oscar setelah penantian selama belasan tahun.

Ia pertama kali masuk nominasi Aktor Pendatang Baru Terbaik pada Academy Awards 1994 untuk perannya sebagai seorang anak penyandang disabilitas dalam film What’s Eating Gilbert Grape — salah satu film favorit gue sepanjang masa.

Leo kemudian mendapat nominasi Aktor Terbaik tiga kali, masing-masing untuk film The Aviator (2005), Blood Diamond (2007), dan The Wolf of Wall Street (2014). Leo juga mask sebagai nominasi untuk The Wolf of Wall Street yang masuk nominasi Film Terbaik, sebagai produser.

Namun, mendapat 5 kali nominasi, Leo selalu pulang dengan tangan kosong. Banyak meme-meme lucu bertebaran di Internet yang mendorong The Academy untuk memberikan aktivis lingkungan hidup ini Piala Oscar.

Hingga akhirnya, ia mendapatkan Oscar pertamanya, untuk kategori Aktor Terbaik akibat perannya yang sangat menggugah di film The Revenant.

The Revenant sendiri merupakan sebuah film yang secara paralel menggambarkan kegigihan seorang Leonardo DiCaprio.

Karakter tokoh utama film ini, Hugh Glass, bisa dibilang merupakan sebuah paralel dari diri DiCaprio sendiri.

Keduanya menunjukkan keuletan dan kegigihan yang sangat kuat demi menunjukkan kekuatan mereka. Glass untuk bertahan hidup, DiCaprio demi sebuah Piala Oscar.

DiCaprio sudah empat kali mengalami kegagalan. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri piala yang ia idam-idamkan jatuh ke tangan orang lain.

Terlebih, ekspresinya tiap kali selalu terekam kamera. Ketika pembawa acara Academy Awards menyebut nama orang lain, bukan namanya, kamera selalu menangkap raut wajah Leo. Tentu, ia mencoba untuk berlapang dada tiap menerima kekalahan.

Pidato kemenangan Leonardo DiCaprio pada Academy Awards ke-88. Foto dari oscars.orgBanyak orang yang menyerah begitu ditimpa kekalahan. Namun tidak halnya dengan Leo. Ia berlatih lebih keras. Bermain film dengan lebih apik. Aktingnya semakin hari semakin dewasa dan berkelas. Seakan Leo ingin memberi pesan kepada kita semua bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Bahwa kegagalan merupakan training ground agar kita berbuat lebih baik di kemudian hari.

Dan itu yang dibuktikannya. Terlihat dari pidato kemenangan Leo saat menerima penghargaan Minggu malam itu. Ia dengan tenang menyampaikan pesannya, dan mengajak penonton di seluruh dunia untuk ikut peduli dengan sebuah cause yang ia percayai sepenuh hati: Perubahan iklim.

Leo mengawali pidatonya dengan berterima kasih kepada seluruh aktor dan aktris di ruangan Dolby Theater malam itu, yang disambung dengan ungkapan rasa hormatnya kepada lawan mainnya Tom Hardy; sutradara The Revenant yang juga mendapatkan Piala Oscar, Alejandro Innaritu; serta orang-orang yang berjasa sejak awal kariernya.

Setelah berterima kasih, Leo yang kerap berbicara tentang isu lingkungan tidak lupa menyampaikan pesan tentang perubahan iklim.

The Revenant merupakan film tentang hubungan manusia dengan alam. Pada 2015, bumi kita mencapai temperatur terpanas dalam sejarah,” kata Leo membuka penjelasannya tetang perubahan iklim.

“Proses produksi The Revenant harus pindah ke wilayah selatan bumi ini hanya untuk menemukan salju. Perubahan iklim benar-benar terjadi saat ini. Perubahan iklim benar-benar merupakan ancaman bagi seluruh spesies, dan kita harus bekerja bersama-sama untuk mencegahnya. Kita harus mendukung para pemimpin di seluruh dunia tidak menyuarakan suara orang-orang yang menghasilkan polusi, melainkan para pemimpin yang berbicara tentang kemanusiaan dan masyarakat adat di seluruh dunia, serta milyaran orang tak berdaya yang mendapatkan efek dari perubahan iklim ini. Untuk anak dari anak-anak kita, dan untuk mereka yang dibungkam oleh ketamakan politis. Saya berterima kasih untuk penghargaan malam ini.”

Leo menutup pidatonya dengan kalimat serangkaian kalimat yang powerful. Let us not take this planet for granted. I do not take this for granted. Thank you very much. (Jangan kita menganggap remeh planet ini. Saya tidak meremehkan ini [masalah lingkungan]. Terima kasih).”

Kemenangan Leo bukan satu-satunya kisah tentang kegagalan dan bangkit kembali. Beberapa pekan sebelumnya, gue nonton American Idol babak final judgment di mana juri memilih kontestan buat masuk ke Top 24 di musim terakhir.

Ada satu kontestan yang membuat gue tertegun, bukan karena suaranya (suaranya bagus, sih, tapi lebih dari itu). Namanya Emily Brooke, umurnya baru 17 tahun.

Tahun lalu dia ikut American Idol juga, tapi langkahnya berhenti di babak ini. Jadi bisa dibayangin gimana traumanya dia harus ketemu babak ini lagi. Tahun ini pas audisi, juri dibuat kagum karena kemajuan yang udah dia buat selama setahun ke belakang.

The “No” she got last year happened for a reason.

Dan kata juri Jennifer Lopez, sebelum meloloskan Emily jadi salah satu semifinalis di Top 24, “We watch you and you, of all the contestants that I’ve seen, were somebody that grew the most in one year. I don’t think I’ve seen that much growth in someone. It’s a real testament to your commitment and your talent”.

Setelah menerima kekalahan bertubi-tubi dalam berbagai kontes bodybuilding yang gue ikutin November-Desember lalu, gue sempat merasa down. Jujur akhir-akhir ini training gue enggak sekeras dulu. Gue terlalu santai dan masih tersimpan rasa kegagalan di ujung hati. Jika dulu gue selalu berusaha buat ke gym meski ada halangan, sekarang gue lebih nrimo.

Dulu, meski macet, hujan, dan banjir pun gue masih sempat-sempatin buat berolahraga. Sekarang, diajak temen ketemuan dan makan-makan, gue dengan gampangnya mengesampingkan latihan gue. I feel like I deserve some time off.

(BACA: Ketika Kekalahan Datang Bertubi-tubi)

Tapi setelah nonton Leo dan episode American Idol malem itu, gue jadi berpikir kembali. Is this what I want? What am I training for? Do I want to compete again this year? Do I want to be better than last year?

Hasil kerja kerasnya Emily Brooke memang benar-benar terlihat. Footage dari musim lalu yang ngasih liat dia masih polos dan kaku jika tampil di panggung, sekarang udah tergantikan sama seorang perempuan yang lebih percaya diri di atas panggung. Suaranya lebih kuat dan teknik vokalnya pun jauh lebih baik.

And I want to be like that! I want to show the world that I can improve. I want to place better than I did last year. Biarkan yang lalu menjadi training ground, menjadi pengalaman dan pelajaran untuk memberikan yang lebih baik.

Dan good example itu enggak melulu diambil dari orang yang lebih tua, tapi dari siapapun, bahkan meski dia jauh lebih muda dari lo. 11 tahun lebih muda. Dan terpisahkan oleh jarak.

It’s amazing to see someone grow in front of your eyes, to see someone you dont know in television to be an inspiration to you. 

And I just hope that my story can have the same effect to others that Leo’s and Emily’s did to me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s