Masih adakah harap-harap cemas pada era Tinder?

Mencari jodoh di era iPhone 6 dan Samsung Galaxy ini sekarang gampang, tinggal swipe kanan dan kalau match maka bisa jadi itulah jodohmu. Kira-kira begitulah prinsip Tinder.

Tetapi apakah benar demikian?

Saya masih ingat perasaan pertama ketika mengirimkan surat kepada seseorang yang saya suka, seorang perempuan, di kelas 6 SD. Entah apakah orang tersebut (yang menjadi sahabat saya sekarang) masih menyimpan dengan baik surat tersebut.

Apa yang saya ingat? Perasaan galau ala anak SD yang tidak karuan, takut kalau surat cinta pertama saya itu dibuang ke tempat sampah, dibaca teman-temannya atau lebih parah lagi, diberikan kepada orang tuanya.

Masih adakah perasaan harap-harap cemas di era Tinder sekarang? Saat keterlibatan perasaan tak lagi menjadi penting karena ketertarikan pada profil dan foto menjadi sesuatu yang lebih utama. PDKT atau pendekatan tak lagi berlangsung melalui tatap muka atau menatap diam-diam, tetapi jempol, dan pulsa 3G yang berbicara.

Ada yang salah tampaknya dengan generasi saya atau bahkan generasi di bawah saya. Bukan berarti kita tidak bisa menemukan cinta di media sosial, tetapi berapa banyak memang yang memang menemukan jodohnya melalui Tinder dan berapa banyak yang justru menciptakan masalah baru atau hanya menjadikannya sebagai alat cinta satu malam semata?

Saya bukannya orang yang anti dengan sosial media semacam ini, tetapi saya mencoba berpikir tentang sedalam apa perasaan dan hubungan yang dibangun. Apakah masih ada perasaan serta kekalutan yang saya rasakan di masa lampau di zaman sekarang ini? Jantung berdebar cepat ketika akan bertemu dengan orang yang kita sukai. Sekarang rasanya lebih banyak kita melihat kegalauan dan status PHP di timeline Path atau Facebook. Bukan demikian?

Mungkin karena cepatnya jatuh cinta di era Tinder ini, cepat pula ketika mendapatkan yang baru. Tidak ada lagi kegalauan yang lebih dari satu minggu. Nyalakan lagi programnya dan mencoba peruntungan baru lagi.

Setiap generasi memiliki kenangannya tersendiri. Rasa-rasanya, di masa depan akan ada generasi Tinder, generasi yang mengenang Tinder sebagai alat untuk memulai suatu hubungan. Bukan lagi surat cinta atau salam di radio.

Selamat swipe ke kanan!


Teks oleh Lewi Aga Basoeki. Ilustrasi oleh Mara Mercado/Rappler

Lewi Aga Basoeki pernah merasa tidak percaya diri. Sekarang ia bekerja di sebuah kantor hukum terkemuka di Jakarta dan menghabiskan waktunya untuk traveling. Ia dapat disapa di Twitter @Legabas.

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di Rappler.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s