Sebut Saja Dia Mawar

Pada malam itu, sembari menunggu terurainya macet jalanan ibu kota selepas kerja, saya memutuskan untuk makan malam di sebuah food hall di bilangan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Kebetulan tempat makan itu berada di lantai dasar, di bawah salah satu pusat kebugaran paling bergengsi di kota metropolitan yang terkenal dengan “isinya” yang memanjakan mata.

Secara tidak langsung, faktor ini juga menjadi salah satu pemicu semangat saya untuk datang berolahraga, walau sebenarnya kadang niat berolahraga seringkali terhempaskan dan tergantikan menjadi kesempatan mencari jodoh. Eh, kok bisa?

“Halo, apa kabar kamu? Sudah lama enggak lihat kamu di sini.” Kalimat-kalimat itu yang sering dapat ketika bertemu seseorang di tempat ini. Jika sudah begitu, saya hanya bisa tersenyum menahan malu. Rasanya, eksis banget. Banyak yang nyariin.

Sambil mengunyah potongan dada ayam yang konon bisa membuat badan ini semakin berisi karena kandungan proteinnya, mata saya terarah pada tangga jalan yang terletak di depan tempat duduk saya. Banyak pria dan wanita yang berlalu lalang di depan saya. Naik turun escalator. Seolah berganti tak ada habisnya. Ada yang sendiri. Yang berduaan. Bertiga. Berempat. Bergerombol. Satu genk. Satu kampung. Satu kelurahan. Sekabupaten. Eh, enggak mungkin dong sekampung?

Anyway, ya intinya banyak orang, deh bolak-balik. Secara jam pulang kerja itu memang pas banget untuk makan malam dan memeras keringat. Sambil menunggu jalanan enggak macet lagi.

sebut saja dia mawar

Lalu sampailah mata saya pada sebuah grup boyband. Eh, bukan. Pada sekelompok pria dengan badan yang terukir sempurna. Mereka hendak turun dari lantai atas ke arah tempat makan.

Ketiga laki-laki itu mengenakan kaos tanpa lengan yang membuat otot-otot mereka semakin menawan dipandang. Dua kata dari bibir ini yang hanya bisa terucapkan dalam hati: Macho dan sempurna. Cuss.

Sontak, pikiran saya langsung mengkhayal jauh. Seandainya saya memiliki tubuh indah nan atletis seperti mereka… Pasti semua orang — baik laki-laki maupun perempuan — akan menaruh perhatian pada saya. Tak ada lagi malam-malam makan dada ayam sendirian di sini sambil memandangi keindahan orang lain.

Hmm… bagaimana ya caranya agar terlihat seperti mereka? Perasaan sudah berlatih keras di gym, tapi masih belum bisa menyamai level mereka. Bagaimana pola latihan mereka? Apa aja yang mereka makan? Banyak sekali pertanyaan dalam otak ini. Dan bayangan andai-andai.

Belum selesai saya mengagumi makhluk Tuhan ini, ketiga pria sudah menginjakkan kaki di anak tangga jalan terakhir. Namun… tiba-tiba terdengar suara yang memekikkan telinga. Datangnya dari salah satu laki-laki itu.

“Ehhh… K*****!”

Ternyata, oh ternyata. Dia latah. Menyebut kemaluan pria pula.

Kemudian, pria kedua yang tepat di belakang pria pertama ikut berteriak, “Nek, tolong Nek!”

Dan lelaki ketiga berteriak paling kencang di belakang karena tas yang ia pegang mendadak lepas dari genggamannya.

Heboh sekali. Seakan semua mata di tempat makan itu tertuju ke arah mereka, sebut saja mereka Mawar 1, Mawar 2, dan Mawar 3.

Entah apa penyebab kehebohan saat itu. Selidik punya selidik, ternyata tas Si Mawar 3 jatuh dari eskalator. Ia pun kaget. Diikuti pekikan dari kedua bros-nya.

Seketika itu juga saya tertawa menahan geli — yang saya yakin orang-orang di sekitar juga merasakan hal yang sama.

Rasanya kok tidak elok ya, badan sebesar mereka tapi latah dan bersikap konyol seperti itu. Memang, semua tidak ada yang sempurna. Buyar semua anganku yang sempat berandai-andai tadi.


Oleh Erfan Haryando.

Ilustrasi mawar oleh Ria Glenn Wulandari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s