Kenapa lelaki lama balas pesan WhatsApp?

“Hey, sorry baru bales.”

Biasanya itulah jawaban tipikal gue buat mereka yang mencoba menghubungi lewat WhatsApp. Bukan apa-apa, gue memang tipe orang yang suka males kalau harus membalas pesan melalui aplikasi chat pada saat itu juga.

Penyebutan nama WhatsApp di sini hanya untuk mempermudah perbincangan saja, tapi juga termasuk aplikasi lain seperti LINE atau BlackBerry Messenger (BBM).

Gue memiliki beberapa alasan mengapa gue enggak selalu membalas pesan secara langsung, meskipun gue yakin enggak setiap orang berpendapat sama. Memang sih, gue akuin kalau kebiasaan ini bisa membuat hubungan dengan orang lain menjadi kurang baik — atau bahkan menggagalkan PDKT ke gebetan.

Dalam pengalaman pribadi, kadang cewek-cewek itu paling males kalau harus menunggu lama untuk sebuah jawaban. Bahkan dari pertanyaan sesimpel, “Hey, lagi apa? Di mana? Udah makan belum?”

Bukannya gue enggak mengapresiasi perhatian yang diberikan, tapi gue merasa, ah cuma basa-basi. Kalau gue mau menghabiskan waktu bareng seseorang, gue akan mengirim pesan ke orang itu, mengajak ketemuan over coffee or something dan ngobrol sepuasnya.

Pada saat itulah, definisi kata “hangout” sebenarnya. Bukan menatap layar selama berjam-jam dengan jempol yang gemetaran karena kebanyakan ngetik. Pada saat yang bersamaan, kita malah mengalienisasi orang-orang di sekitar sebenarnya.

Sekarang ini telah muncul kultur baru di kalangan masyarakat metropolitan, yaitu a sense of immediacy. Sebuah budaya di mana seseorang diharapkan melakukan sesuatu pada saat itu juga. Dengan semakin gencarnya arus informasi dan konektivitas sesama manusia, seakan kita harus membalas pesan ketika pesan itu muncul di layar smartphone. Kalau kita menunggu barang 5 menit atau setengah jam, kita dianggap enggak sopan, enggak tahu etika.

Padahal zaman dahulu, enggak seperti ini adanya. E-mail enggak perlu dibalas waktu itu juga. Atau SMS. Atau surat. Unless… benar-benar darurat.

Paling sebal sama orang yang merasa pesannya harus dibalas pada saat itu juga. Kalau dibalasnya telat sedikit, dramanya lebih heboh dari serial TV Korea.

“Qowi, lo kenapa, sih? Lo marah ya sama gue?”

“Maafin gue ya kalau gue ada salah sama lo.”

“Kalau lo merasa terganggu sama gue, block aja gue dari WhatsApp lo.”

“Gue udah biasa, kok, diginiin. Enggak apa-apa (kasih emoticon senyum, padahal miris).”

Seperti gue jelaskan tadi di atlas. Pertama, gue males nanggepin obrolan yang sebenarnya enggak penting. I’d rather meet and talk than chat over instant messaging app.

Kedua, gue lebih mengutamakan untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang di sekitar gue. Gue enggak mau mengorbankan kualitas waktu gue dengan orang-orang terdekat (yang udah sangat jarang sekarang ini), dan menatap ke layar smartphone terus.

Unless it’s really important atau lo adalah anggota immediate family, ya sabar aja. Pesan lo juga akan gue balas pada waktunya.

Well, this post now sounds a little like a rant. Sebelum gue mulai ngalor ngidul, sebaiknya kita bertanya kepada para lelaki metropolitan lainnya. Apakah mereka mengalami hal yang sama? Atau mereka memiliki pandangan yang berbeda?

rifki akbari

Rifki Akbari (36 tahun), International Development Consultant (freelancer)

Apakah lo termasuk tipe orang yang lama bales pesan di WhatsApp/LINE/etc.? Mengapa?

WhatsApp dan aplikasi chatting lain saat ini adalah bagian dari perubahan gaya berkomunikasi. Gue termasuk tipe orang yang lama balas pesan di WA, karena gue masih menganggap evolusi komunikasi lewat WA ini masih pada taraf sebagai complementary, bukan sebagai primary means of communication. Tentu kita enggak bisa mantengin WA setiap saat, jadi respons yang diberikan akan lebih lama. Biasanya gue bakal check WA di waktu senggang seperti ketika istirahat makan siang, menjelang pulang kantor, di angkutan umum, atau sebelum tidur.

Jika ya, bagaimana perasaan lo kalau orang yang lo hubungin, lama balas pesan lo?

Terhadap orang yang lama balas pesan gue di WA, gue sih biasa aja. Karena ekspektasi gue ketika berkomunikasi lewat jalur itu, gue tahu itu bukan jalur cepat bebas hambatan. Biasanya itu gue pakai untuk pesan-pesan yang tidak urgent sifatnya. Kalo urgent, ya harus yang lewat jalur cepat bebas hambatan dong alias telepon. Hahaha.

Menurut lo, etika yang baik dalam berkomunikasi melalui applikasi chat itu seperti apa?

Etika yang baik dalam berkomunikasi tentu harus menghargai hak orang lain, karena komunikasi itu kan dua arah, termasuk melalui aplikasi chat. Sikap menghargai “lawan bicara” ini akan didapat ketika kita sudah tahu kondisi atau adanya suatu kesepakatan yang sifatnya bisa personal; misal jangan bertanya hal urgent via WA ke gue, karena tahu gue bisa lama enggak check WA. Selain itu, juga tentu yang sifatnya universal seperti jangan mengirim foto korban kekerasan pada grup WA keluarga yang terdapat anak-anak sebagai anggota, contohnya.

Bagaimana WhatsApp membantu lo dalam PDKT ke gebetan atau berkomunikasi dengan pacar?

WA bagaimanapun sangat membantu dalam berkomunikasi dengan orang-orang terdekat, termasuk gebetan atau pacar tentunya. Percakapan panjang enggak penting ke gebetan (alias rayuan) paling enak dilakukan lewat aplikasi chat ini. Tapi sepertinya porsi yang berbeda akan berlaku ke pacar untuk chatting via WA, mungkin karena rayuan panjang sudah tidak perlu lagi dilakukan. Percakapan panjang via WA dengan pacar menjadi tidak seseru sebelumnya, jadilah percakapan yang ada lebih pendek, seperlunya saja, semisal mengabarkan ketika sudah sampai tujuan dari perjalanan dinas keluar kota. Buat gue, cerita-cerita untuk di-share ke pasangan itu lebih enak diomongkan langsung pas kita ketemu, jadi lebih lengkap emosinya.

Apakah lo pernah punya cerita lucu/menyebalkan terkait isu ini?

Ada cerita yang lucu sekaligus menyebalkan ketika gue berkomunikasi via WA. Klasik sih, mungkin hampir semua pernah ngalamin. Jadi, ada seorang teman yang sedang curhat melalui WA mengenai masalahnya dengan teman lain, anggap saja si X. Nah kebetulan saat itu gue sedang bersama si X ini. Akibat terburu-buru, gue malah memberi respon mengenai si X ini justru ke X sendiri, melalui akun WA-nya! Jadilah komunikasi salah alamat!

Mahfud Achyar

Mahfud Achyar (25 tahun), Communication Specialist, Kementerian Dalam Negeri RI

Apakah lo termasuk tipe orang yang lama bales pesan di WhatsApp? Mengapa?

It depends. Kalo emang yang nge-chat gue itu temen deket, pasti langsung gue balas. Tapi sejujurnya gue males nge-chat personal. Biasanya agak lama balesnya. Mikir dulu mau bales apa. Atau enggak, eh entar dulu deh. Kalau atasan lagi nge-chat pas libur, gue biarin biar masih unread. Hehe. Tapi kalau ada yang sharing pasti intens buat chat. Lebih prefer agak lama balas.

Jika ya, bagaimana perasaan lo kalau orang yang lo hubungin, lama balas pesan lo?

Kalo gue nge-chat penting banget, misalnya udah janjian, trus gue chat atau bahkan enggak ngasih kabar, gue kesel. Tapi kalau memang enggak terlalu penting, dan lama balesnya, ya udah enggak apa-apa. Agak cuek sih gue sebetulnya. Gue paling mikirnya mereka lama balas karena ketiduran, lagi mandi, lagi ngupil, dsb. Keep calm aja.

Menurut lo, etika yang baik dalam berkomunikasi melalui applikasi chat itu seperti apa?

In my opinion, gue suka mempertimbangkan lagi ngobrol sama siapa. Kalau baru kenal, pasti gue berusaha agak formal. Kalau sama sahabat, rame sesuka hati mau nulis apa aja karena no hard feelings. Jadi harus tahu dulu siapa lawan bicara gue.

Bagaimana WhatsApp etc. membantu lo dalam PDKT ke gebetan atau berkomunikasi dengan pacar?

Antara telepon dan texting, lebih seringnya texting. Nah, platform yang paling sering digunakan emang WhatsApp. Sangat membantu untuk deket dengan gebetan. Pernah kita random saling balas puisi di WhatsApp. Jadi lucu juga sih kalo diingat. Tapi gara-gara WhatsApp juga akhirnya gue tau dia memang enggak layak lagi untuk diperjuangkan. Baper. Hiks.

Apakah lo pernah punya cerita lucu/menyebalkan terkait isu ini?

Jadi ceritanya, gue punya gebetan dari dulu di kampus, berusaha ngasih perhatian dengan chat di WhatsApp. Mulai dari ngasih pesan motivasi, quote, trus kita pernah asik banget ngobrol di WhatsApp. Cuma pas ketemu langsung, kok anaknya jaim banget. Seperti kaya ngasih barrier gitu. Padahal gue rasa sih dia nyaman ngobrol sama gue. Cuma entahlah, kayanya egonya terlalu tinggi. Tapi itu bikin penasaran sumpah. Misterius gitu. Jadi mikir kira-kira strategi apa ya, yang bikin dia melted sama gue. Hehe.

Tapi sekarang, itu hanya jadi kenangan. Dia telah memilih yang lain. Gue juga sih yang salah, enggak gerak cepat. Tapi gimana dong, emang gue belom siap. Ya sudahlah. Oh ya, terus ada juga kaya semacam fans gitu. Sering banget nge-chat. Nanya ini, nanya itu. Bikin enggak nyaman. Jadi terkesan agak agresif. Gue berusaha menghindari atau enggak balas chat. Agak jahat kesannya, tapi gue enggak mau PHP (pemberi harapan palsu). Jadi sekarang ya sudahlah, pantaskan diri dulu aja. Pasti ada waktunyalah. Nikmati aja hidup!

Screen Shot 2016-02-14 at 8.58.16 AM

J Ryan Karsten (25 tahun), fashion model and designer

Apakah lo termasuk tipe orang yang lama bales pesan di WhatsApp? Mengapa?

Nope, my phone is barely twenty four hours on my hand. So I have not any excuse untuk balas lama. Unless I am doing my work.

Jika ya, bagaimana perasaan lo kalau orang yang lo hubungin, lama balas pesan lo?

I really hate it. Apalagi ketika dalam keadaan penting. C’mon, phone is really important, dude. 

Menurut lo, etika yang baik dalam berkomunikasi melalui aplikasi chat itu seperti apa?

Umm… For me, etika yang baik adalah apabila orang chat panjang lebar, and I have to reply dengan “niat” juga. Artinya tidak hanya singkat padat dan tidak jelas, kita harus menghargai orang tersebut, agar menunjukkan kalo kita respect those who chat us.

Bagaimana WhatsApp membantu lo dalam PDKT ke gebetan atau berkomunikasi dengan pacar?

Of course. It really helps. Actually to get the chemistry and to communicate all day long.

Apakah lo pernah punya cerita lucu/menyebalkan terkait isu ini?

Umm, yes! Ketika bersama my ex girlfriend, lagi ribut, dan dia balesnya lama sekali. Sedangkan gue tipe yang harus cepat selesaikan saat itu juga. Alhasil membuat gondok sendiri. Hahaha.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. paling malas what app org tp gk dibalas , menurut aku sich gk sopan apalagi kalau cow ke cew http://www.karanganbunga.com/indramayu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s