Jatuh Cinta Sama Orangnya … Atau Suasananya?

“Love is addictive.”

Kalimat tersebut diucapkan oleh salah seorang teman saya ketika kita berdua sedang asyik membicarakan tentang kisah percintaan masing-masing.

Kita Semua Suka Jatuh Cinta

Tidak bisa dipungkiri kalau kita semua suka dengan yang namanya jatuh cinta. Siapa sih yang tak suka kalau setiap hari diberikan perhatian lebih dari teman biasa oleh seseorang yang juga kita harapkan lebih dari teman biasa? Beberapa dari kita mungkin suka tersenyum geli ketika menatap diam-diam gebetan yang duduk di sebelah kita sewaktu film diputar di bioskop dan lampu telah redup. Ah, nikmatnya perasaan jatuh cinta!

Namun, saya percaya bahwa perasaan jatuh cinta itu juga sama seperti perasaan kehilangan, namun dalam hasil akhir yang berbeda. Perasaan adalah perasaan dan yang membedakan adalah apakah perasaan itu diinginkan atau tidak di dalam hidup kita. Perasaan jatuh cinta ini sering menipu atau bahkan tergolong semu.

Bukan Orangnya, Tapi … Suasananya?

Apa yang menyebabkan kita jatuh cinta dengan seseorang? Rupanya? Latar belakang keluarganya? Karirnya? Kepribadiannya? Ada seribu satu alasan yang membuat kita kemudian tertarik untuk menjalin hubungan lebih dengan apa yang disebut dengan sang (calon) pujaan hati. Namun, bukankah selama ini kita selalu terbuai dengan nuansa dan suasana jatuh cinta sehingga kita pun lupa bahwa sebenarnya yang kita tuju adalah orangnya dan bukan perasaan jatuh cintanya.

Kita (dan termasuk juga saya) cenderung untuk terbuai di dalam perasaan jatuh cinta tersebut. Kita suka diberikan perhatian. Kita suka apabila tangan kita digenggam. Kita suka ketika makan malam berdua. Semua berbicara soal keadaan, yang lagi-lagi membuat kita merasa jatuh cinta.

Pertanyaannya, ketika kita putus dan tak lagi berhubungan, apakah yang sebenarnya kita rindukan? Perasaan jatuh cintanya atau justru kita kehilangan orangnya?

Saya kemudian berpikir, apa jangan-jangan kita selama ini terjebak di dalam perasaan jatuh cinta yang kita buat sendiri. Yang penting kita happy. Kita lupa bahwa sebenarnya yang harusnya kita cintai bukanlah suasananya tetapi justru orangnya, sang kekasih hati tersebut.

Saya pun berpikir lebih lanjut, ketika saya menjalani hubungan jarak jauh dan ketika ada orang yang mendekati saya dan bisa memberikan suasana yang tak akan pernah didapatkan dengan pacar saya yang sedang jarak jauh tersebut, apakah saya lebih memilih orang yang dekat ini? Apakah saya lebih mementingkan nuansa dibandingkan rasa?

Saya pun curiga, jangan-jangan, saya ternyata diam-diam menjadi orang yang egois. Saya hanya berpikiran bahwa urusan jatuh cinta hanyalah urusan perasaan saya dan menafikan orang lain. Yang penting saya bahagia. Yang penting saya berbunga-bunga. Hubungan adalah tentang saya dan bukan lagi tentang kita.

Saya hari ini belajar bahwa jatuh cintalah dengan orangnya dan bukan dengan nuansanya.Β 

Selamat menghadapi Hari Kasih Sayang!


Teks oleh Lewi Aga Basoeki. Foto oleh Nariswari Yudianti.

Lewi Aga Basoeki bekerja di sebuah kantor hukum terkemuka di Jakarta dan menghabiskan waktunya untuk traveling. Ia dapat disapa di TwitterΒ @Legabas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s