Romantis Rasa New York: Serendipity III Untuk Momen Spesialmu

DCIM143GOPRO

Boleh setuju, boleh tidak. Menurut gue, New York merupakan salah satu kota dengan sejuta romansa yang terselip di antara hiruk-pikuk kesibukan manusia metropolitan dan belantara hutan beton pencakar langit.

Menjelang Valentine’s Day, bagi Lelaki Metropolitan yang berencana melewati hari kasih sayang di The Big Apple, rasanya restoran klasik-legendaris SERENDIPITY III dapat menjadi salah satu tempat yang cocok didatangi bersama orang terkasih ataupun orang-orang terdekat kalian.

Nama restorannya cukup merepresentasikan keseluruhan impresi pengunjung yang datang ke sana. Serendipity  secara harfiah berarti beautiful coincidence atau “kebetulan yang indah”. Sedangkan angka III merajuk pada cerita tiga pangeran dari Pulau Serendip yang ditulis oleh Sir Horace Walpole yang sengaja diadaptasi oleh ketiga pendiri restoran tersebut, Stephen Bruce, Calvin Holt, and Patch Carradine.

SERENDIPITY III telah menjadi bagian dari kota New York sejak 1954. Bahkan restoran ini merupakan tempat nongkrong Andy Warhol untuk mencari inspirasi, sebelum dia jadi seniman terkenal di dunia. Berlokasi di 225 East 60th Street, Midtown Manhattan, restoran yang sering dijadiin tempat shooting berbagai film romansa Hollywood ini cukup di anggap sebagai must-visit restaurant dan must-eat dessert bagi para wisatawan yang datang ke New York, menurut berbagai situs online.

Penting untuk melakukan reservasi setidaknya seminggu sebelum waktu kunjungan, untuk dapat best spot – meja yang masuk dalam scene film Serendipity atau One Fine Day, jika tidak ingin masuk dalam waiting list dan harus menunggu 5 jam untuk bisa mencicipi makanan di restoran ini.

Restoran dengan rate 3.6/5 bintang ini terkenal dengan menu dessert-nya bernama “Frrrozen Hot Chocolate” resep rahasia buatan Stephen Bruce. Selain itu, pada 2004 lalu, saat restoran ini merayakan ulang tahunnya yang ke-50, sebuah menu spesial bernama “Golden Opulence Sundae” diluncurkan.

Serendipity 1Golden Opulence Sundae tercatat sebagai sundae termahal menurut Guiness World Record 2007, yang dijual seharga US$ 25.000 per porsinya, di mana resep untuk membuat makanan penutup ini merupakan campuran 28 jenis coklat dari berbagai belahan dunia dan saus berbahan emas 23-karat yang dapat dikonsumsi untuk makanan.

Jika lo beruntung, satu-satunya owner yang masih hidup, Stephen Bruce, suka nongkrong di lantai satu restoran ini. Dia menjual buku sejarah tentang restoran SERENDIPITY III dan dengan senang hati mengajak lo ngobrol ataupun menandatangani buku yang lo beli dari dia.

Overall, rasa makanannya lumayan enak dan unik, harganya juga cukup pas dan sesuai porsi. Dari pengalaman gue, restoran ini really worth to pay a visit bersama orang terdekat lo.

‘Some things are too strange and too beautiful to be coincidence’

Gue masih ingat benar, pertama kali Gue nonton film Serendipity, yang dibintangi oleh John Cusack dan Kate Beckinsale, di rumah kontrakan gue di Jepang pada 2007. Waktu itu Desember menjelang Natal dan rumah kami menjadi tuan tamu untuk Christmas Gathering bagi teman-teman Indonesia seperantauan di kota Beppu.

Anyway, salah satu roommate gue itu—yang juga sahabat gue dari SMA— adalah cewek paling cheesy yang hidup dalam imajinasi romantisme asupan film-film Hollywood  yang pernah gue kenal. Pas kita mulai makan malam saat Christmas Gathering itu, roommate gue memasang film Serendipity yang bergenre Christmas Holiday Movie Romance. Jadilah kita, ber-delapan belas, nonton Serendipity di bawah langit Beppu yang lagi turun salju lumayan deras dan bersuhu -12 derajat celcius.

“Pas nih nonton Serendipity, winter-winter gini. Feel-nya dapet banget,” kata roommate gue itu.

You know what? She’s right.

Walaupun alur cerita filmnya mudah ditebak; tentang strangers yang ketemu enggak sengaja di New York terus mereka jadi soulmate untuk satu sama lainnya, tapi untuk kali ini syahdu banget rasanya. Malamnya, pas gue lagi siap-siap mau tidur, sempat terbesit di pikiran gue, “Kalau gue akan pernah menginjakkan kaki di New York, gue harus banget makan di restoran Serendipity itu, kaya John and Sara”.

16 ribu kilometer untuk segelas Frrrozen Hot Chocolate dan sepiring Nachos

DCIM143GOPRO

Saat draft tulisan ini gue simpan di Notes iPhone, gue lagi senyum-senyum sendiri di New York Subway nomor 6, on the way menuju Serendipity III. Ya, 8 tahun setelah malam itu, ternyata kaki gue beneran diizinkan melangkah sampai kota yang—kebetulan sekali—inisialnya sama kaya nama gue itu, NY.

Kebetulan ada salah satu sahabat gue yang tinggal di New York bersama suaminya, jadi gue sengaja main ke New York bertepatan dengan hari ulang tahun sahabat gue itu. Kontras dengan budaya Indonesia, di Amerika Serikat, biasanya orang yang berulang tahun itu yang ditraktir oleh kerabat-kerabatnya—bukan sebaliknya. Berpedoman dengan aplikasi Citymapper, gue menjelajah The Big Apple seorang diri menuju restoran tersebut, tanpa nyasar.

GUe sampe di restoran jam 11:45 siang, reservasi gue jam 12:00, dan memang betul, antrian pengunjung yang belum reservasi table mengular sampai ke jalanan di luar restoran. Sahabat gue datang pukul 11:55 dan kita pun dipersilakan duduk di sebuah meja kecil untuk empat orang di lantai 2 oleh seorang pelayan laki-laki yang kemayu, sebut saja dia Bryan.

Tanpa basa-basi, kita berdua langsung pesan beberapa makanan yang menjadi rekomendasi food blogger New York; Blue Corn Nachos with cheddar cheese, Serendipitous Chef’s Salad, Salmon A La Garden of Allah, Chicken not so little Soup dan tidak mungkin lupa Frrrozen Hot Chocolate—Iya ‘r’ nya ditulis 3 kali, ala Serendipity.

Raut muka si pelayan kemayu cukup shocked pas dengar pesanan bejibun dua cewek mungil ini.

Will anyone coming to join the lunch? These packs are quite huge for two ladies like you, you know,” kata Bryan.

Sayangnya, suami sahabat gue sedang ujian di kampusnya dan pacar gue (saat itu) menunda liburannya ke New York dari Korea Selatan karena urusan kantor yang tidak bisa ditinggal. Sedikit kecewa, but oh well, at least I got here already.

Nope. But we can handle the heavy packs,” jawab sahabat gue, sambil setengah menggoda si pelayan.

Jujur, saat semua makanan itu datang, kita berdua memang kewalahan menghabiskan semua makanan itu. Tapi, diselingi ngobrol panjang nostalgia dan rasa rindu karena hampir satu tahun enggak bertemu, tanpa sadar piring-piring dan gelas-gelas di meja kami sudah kosong melompong. Si pelayan datang mengambil piring kotor dengan muka lebih shocked dari saat kami meng-order makanan.

Are you guys actually living in New York?” tanya dia penasaran.

I am, but she’s not. My best friend here, is coming all the way from Indonesia just to sip that famous Frrrozen Hot Chocolate and arranging this birthday lunch for me. Isn’t that sweet?” jawab teman gue.

Dua menit kemudian si pelayan datang lagi membawa bill, dengan total tagihan US$ 55. Padahal menurut hitungan gue, harusnya total harga makanan yang gue pesen adalah US$ 81. Gue pun membayar dengan US$ 70 (dengan US$ 15 untuk tips pelayan). Di AS, jangan lupa untuk memberikan tips kalau enggak mau dijutekin.

Saat hendak keluar restoran, ternyata Stephen Bruce, sang owner sedang duduk di dekat tangga. Dia sadar kalau gue memperhatikannya, lalu dia pun berkata, entah buat saya atau seorang ibu-ibu di sebelah saya yang juga sedang menatapnya, “There’s always compliment for kind acts.”

Lalu, saya pun melengos keluar SERENDIPITY III dengan senyum lebar.

Ah, New York… Kamu manis sekali.

This slideshow requires JavaScript.


Teks dan foto oleh Nariswari Yudianti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s