Menjadi Lelaki Metropolitan Jelang Usia 30

Mungkin saya tidak cukup memenuhi kriteria untuk bergabung dengan 27 Club bersama Jim Morrisson, Janis Joplin, Kurt Cobain atau Amy Winehouse. Entahlah, mungkin saya enggak se-cool yang saya pikir, atau kurang rock ’n roll, atau fakta bahwa hanya bisa bermain alat musik pas-pasan lah yang membuat saya tak “diterima” di 27 Club.

Meski, pada hari ulang tahun saya yang ke-28 berbarengan dengan terjadinya Bom Sarinah, saya masih beruntung tidak ditarik ke 27 Club.

Angka 27, khususnya bagi musisi, memiliki makna magis. Pada usia itu banyak musisi legendaris yang disebutkan di atas harus menghembuskan nafas terakhir mereka. Di puncak karir mereka. Di usia prima. Di mana kita sudah cukup dewasa untuk menjadi “orang.”

Ketika masih kecil, saya bermimpi pada usia 27 saya akan bekerja di sebuah perusahaan besar. Ke kantor memakai dasi dan jas. Berkantor di segitiga emas antara Sudirman, Kuningan, atau Thamrin.

Pada usia 27 jualah saya mematokkan target untuk beristri. Mungkin menunggu setahun atau dua tahun sebelum memiliki anak.

Tapi kenyataannya, pada usia 27 tahun saya bekerja dari rumah, dari kasur sambil mengenakan celana pendek dan kaos oblong.

Pada usia 27 tahun ini masih menyendiri, sejak 5 tahun yang lalu, dan belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat.

Pada usia 27 tahun ini juga saya masih merasa seperti umur 22. Masih merasa muda, terkadang (seringnya) masih bingung menentukan arah hidup. Masih gemar memakai jeans belel dan kaos lusuh.

Bayangan saya usia 27 tahun itu ternyata tak sedewasa yang saya pikirkan dulu saat masih anak-anak.

Tapi apakah hanya saya yang merasakan hal ini? Bagaimana dengan orang lain?

Saya bertanya kepada teman-teman lelaki metropolitan lain yang berusia 27 tahun atau mendekati kepala tiga. Apakah mereka merasakan hal yang sama? Bagaimana cita-cita mereka di tahun-tahun berikutnya?

Omar Prawiranegara

Omar Prawiranegara (30 tahun)

Entrepreneur – Owner Kedai Si Taqi, Co-Founder PASSO, CEO Pasoetri Wedding Organizer

Apakah usia akhir 20an ini seperti apa yang lo bayangkan ketika masih anak-anak?

Sama sekali enggak kepikiran bakal kaya gini. Gue pikir umur 30 itu udah tua, ternyata masih bisa tetap jiwa muda. Yang beda cuma pola pikir aja.

Usia akhir 20-an itu dianggap sebagai batas dewasa seseorang. Kapan lo merasa bahwa diri lo sudah menjadi dewasa?

Menurut gue umur bukan “KPI” (Key Performance Indicator, -red) seseorang bisa disebut dewasa. Gue setuju sama quote, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Buat gue pribadi gue ngerasa dewasa ketika gue udah berani ngelamar istri gue. Itu salah satu lompatan besar dalam hidup gue, hijrah dari Omar ABG ke Omar dewasa.

Siapa panutan lo sebagai lelaki dewasa? Mengapa?

Bokap. Sejauh ini gue berdiri sekarang karena hasil masterpiece beliau dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Beliau sudah berhasil berjasa nyetak gue seperti saat ini. Karena menurut gue anak itu karya seni orangtua mereka. Namanya karya seni ada keindahan di masing-masing karyanya dan enggak ada yang sama setiap karyanya. Dan itu cuma bisa dilakukan oleh orang-orang yang dewasa.

Apa yang memutuskan lo untuk menikah pada usia 20an?

Gue dari dulu awal 20-an punya target ingin nikah umur 25, terus langsung punya anak, dan itu meleset 2 tahun. Kenapa? As simple as gue ingin pas masa ABG anak gue, gue masih bisa “seumuran” dari cara pandang at least hehe. Kan seru bisa punya “Bro Time” nonton Piala Dunia bareng anak.

Kewajiban apa yang menurut lo harus dipikul sebagai pria dewasa?

Seperti yang gue bahas tadi, ketika kita dewasa yang beda cuma pola pikir. Pria dewasa enggak bisa mikirin diri sendiri aja. Ibarat kalau biasanya liat pemandangan cuma dari atas genteng, pria dewasa harus mampu liat pemandangan dari atas gunung. Artinya lebih luas dalam melihat atau memutuskan sesuatu. Pria dewasa harus mikirin buat keluarga kecilnya dan orang sekitarnya. Itu seru sekaligus fun ketika lo tau apa yang lo lakuin itu berguna buat orang lain selain diri lo sendiri.

Apa yang belum tercapai selama ini? Apakah lo cukup puas dengan keadaan lo saat ini? Apa yang ingin lo ubah?

Banyak yang belum tercapai, salah satunya gue pengen deketin passion gue sama sumber penghasilan gue. Gue pengen punya lapangan bola sama sekolah sepakbola sendiri.

Bagaimana hidup sebagai lelaki metropolitan di ibu kota? Apa suka dan dukanya?

Sukanya teknologi informasi lebih dulu sampainya dibanding kota lain, dan itu penting. Dukanya makin sekarang orang makin individualistis, padahal menurut gue, orang Indonesia kalau mau bersaing di dunia luar, apalagi sekarang udah MEA (Masyarakat Ekonomi Asean, -red) harus berkembang sukses bareng dengan prinsip “gotong royong”.

Apa cita-cita lo selama 5-10 tahun ke depan?

Gw pengen jadi Menteri Pemuda dan Olah Raga. Enggak tahu kenapa, menurut gue sekarang Indonesia lagi pada fase generasi emas, high quality startups bermunculan, banyak anak muda punya usaha sendiri yang well planned dan mereka enggak silau sama kerja di perusahaan multinational companies. Dan seharusnya Menpora yang bisa sinergikan itu. Enggak tahu gimana caranya menuju sana, tapi gue punya mimpi ke sana dan semua yang besar dimulai dari mimpi, bukan?

Processed with VSCOcam with e3 preset

Bintang Angkasa (28 tahun)

Consultant of Technology Practice – Weber Shandwick

Apakah usia akhir 20an ini seperti apa yang lo bayangkan ketika masih anak-anak?

Justru berbanding terbalik dengan apa yang gue pikirkan sewaktu kecil. Entah kenapa gue tidak pernah merasa berada di umur 28 tahun. Rasanya masih seperti saat gue memasuki jenjang kuliah sepuluh tahun yang lalu. Bedanya sekarang adalah pikiran jauh lebih terbuka, berwawasan, dan telah bertemu berbagai macam kepribadian manusia.

Usia akhir 20an itu dianggap sebagai batas dewasa seseorang, kapan lo merasa bahwa diri lo sudah menjadi dewasa?

Bagi gue, orang dewasa adalah anak-anak yang menghabiskan waktu lebih banyak untuk berpikir sebelum bersikap. Tapi terkadang output yang dihasilkan tidak semurni apa yang anak-anak pikirkan. Itu kenapa gue tidak merasa perlu menarik garis pembatas antara keistimewaan dari menjadi anak-anak dan kebijaksanaan dari menjadi dewasa. Gue tidak pernah lupa untuk berada di antaranya.

Siapa panutan lo sebagai lelaki dewasa? Mengapa?

Sejujurnya dalam cakupan keluarga, baik dari pihak ayah maupun ibu, gue tidak menemukan panutan lelaki dewasa yang sesuai dengan pandangan gue. Tapi bagaimanapun, setiap sosok pria di dalam keluarga gue memiliki kelebihan tersendiri. Kalau bicara soal public persona, menurut gue public figure yang bisa merepresentasikan apa yang gue pandang sebagai lelaki dewasa itu adalah Oka Antara. Pembawaannya tenang, bijaksana, dan inspiratif. Mungkin bisa dijadikan panutan saat gue menjadi seorang ayah nanti.

Apa yang memutuskan lo untuk belum menikah pada usia 20an?

Status belum menikah di usia late 20s memang cukup sulit dihadapi, terutama karena banyak teman telah menemukan pasangan, memutuskan untuk menikah, dan berkeluarga. Tapi gue berpendapat bahwa keputusan menikah itu semestinya bukan karena tuntutan sosial, keluarga, atau nafsu. Menikahi seseorang itu harus dilandasi dengan perasaan cinta dan komitmen. Dalam hal ini, gue merasa belum menemukan masalah. Mungkin belum saatnya bagi gue untuk menikah.

Kewajiban apa yang menurut lo harus dipikul sebagai pria dewasa? Apakah itu berat buat lo?

Pria dewasa wajib bertanggung jawab atas segala sesuatu yang ia perbuat. Sadar betul apa keuntungannya, kerugiannya, dan dampak jangka panjangnya. Menurut gue ini merupakan hal mendasar jika kita selalu mengingat bahwa manusia lain adalah diri kita sendiri dalam rupa yang berbeda.

Apakah lo cukup puas dengan keadaan lo saat ini? Apa yang ingin lo ubah?

Gue bahagia dengan segala bentuk pencapaian gue. Kita perlu bersyukur dengan apa yang kita miliki sebelum menentukan langkah selanjutnya. Jika ada satu hal yang bisa gue ubah, gue ingin menerapkan konsistensi dalam segala aspek kehidupan. Gue percaya konsisten adalah kunci keberhasilan.

Bagaimana hidup sebagai lelaki metropolitan di ibu kota? Apa suka dan dukanya?

Karena rumah gue terletak di perbatasan kota, kerugian paling utama adalah menurunnya produktivitas keseharian akibat kemacetan Jakarta. Gue menghabiskan 1-2 jam dalam perjalanan pergi maupun pulang, yang mana waktu tersebut bisa gue gunakan untuk melakukan lebih banyak kegiatan yang bermanfaat. Keuntungannya adalah gue terbiasa bergerak, bekerja, dan berpikir lebih cepat dibandingkan ketika gue masih bekerja di Bandung.

Apa tujuan/cita-cita lo selama 5-10 tahun ke depan?

Impian gue dalam sepuluh tahun ke depan adalah telah menyelesaikan pendakian berbagai gunung tertinggi di Indonesia. Memiliki bisnis travel agency sendiri, mapan, dan mandiri. Seorang diri atau tidak, yang paling penting adalah dikelilingi dengan banyak teman hebat, sehingga kita tertular hebatnya pula.

463715_10151260979577488_1632934662_o

M. Fakhrurozie (26 tahun)

Scheduling analyst – Pertamina

Apakah usia akhir 20an ini seperti apa yang lo bayangkan ketika masih anak-anak?

Sejujurnya waktu anak-anak gue belum pernah ngebayangin akan seperti apa hidup gue di usia 20-an. Gue baru mulai berandai-andai ketika gue lulus SMA.

Yang ada di pikiran gue waktu itu, di usia 20-an gue sudah punya pekerjaan tetap, udah mulai nyari rumah sendiri, mobil sendiri, gue bisa travelling ke luar negeri, bisa ajak orangtua gue makan enak, jalan-jalan dan semacamnya. Kemudian menuju akhir usia 20an mulai ngerencanain nikah dan membangun keluarga.

Usia akhir 20an itu dianggap sebagai batas dewasa seseorang, kapan lo merasa bahwa diri lo sudah menjadi dewasa?

Di saat gue sudah bisa mengatur emosi ketika gue harus menghadapi peliknya permasalahan pekerjaan dan keluarga.

Siapa panutan lo sebagai lelaki dewasa? Mengapa?

Lelaki dewasa panutan gue selalu dan enggak akan ada yang lain selain bokap gue. Meskipun beliau orangnya emosian, tapi beliau bisa membuat suasana jadi cair setelah menyebutkan “lesson learned” dari emosi yang sudah dia keluarkan itu.

Apa yang memutuskan lo untuk menikah pada usia 20an?

Gue menikah setelah pertanyaan nyokap gue, “Kapan mau nikah? Hidupmu udah enak gitu” yang dibarengi dengan emosi gue yg mulai semakin stabil walaupun lagi banyak masalah.

Apa yang berbeda saat sebelum dan sesudah menikah?

Yang berbeda adalah ketika yang harus gue bikin bahagia enggak cuma orang tua lagi, tapi juga istri dan anak. Keuangan juga mulai ada yang atur, enggak bisa seenaknya semau gue ngeluarin uang.

Kewajiban apa yang menurut lo harus dipikul sebagai pria dewasa? Apakah itu berat buat lo?

Jadi leader yang bisa memimpin keluarga dan bikin bahagia semua pihak walaupun harus gue yang mengorbankan diri sendiri.

Apa yang belum tercapai selama ini? Apakah lo cukup puas dengan keadaan lo saat ini? Apa yang ingin lo ubah?

Yang belom tercapai saat ini adalah berangkatin orangtua umrah dan S2 di luar negeri. Yang ingin gue ubah adalah seharusnya gue ambil S2 dan beasiswa ke luar negeri dulu, baru kerja, baru nikah.

Bagaimana hidup sebagai lelaki metropolitan di ibu kota? Apa suka dan dukanya?

Suka dukanya apa ya? Jaga gengsi kayanya. Di lingkungan metropolitan di mana jajan di kafe yang mahal merupakan gaya hidup dan punya mobil keren nunjukin prestige. Gue harus bisa nahan diri biar uang enggak habis cuma karena ikutin gengsi makan di tempat mahal, karena nabung buat gue nomor satu.

Apa tujuan/cita-cita lo selama 5-10 tahun ke depan? 

Bisa umrahin orangtua dan anak-istri. Kalau dapet giliran, udah naik haji. Dapat posisi manajemen di kantor, mulai nyoba investasi di trading saham, kalau bisa ngajar training sesuai keahlian gue dan yang jelas udah dapet gelar Master dari luar negeri.  Amin.


Dengan laporan dari Nariswari Dita Yudianti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s