Jomblo Metropolitan: Saling Tatap di Kedai Starbucks

Gue lagi fokus mengedit tulisan analisis soal groundbreaking kereta api cepat Jakarta-Bandung yang baru aja diresmikan oleh Presiden Jokowi ketika gue merasa ada sepasang mata menatap ke arah gue dari sebelah kiri.

Gue menengok ke arah jarum jam 11. Seorang wanita berambut pendek dan berkacamata itu memang sedang menatapi gue. Begitu dia sadar kalau gue melihatnya balik, dia langsung membuang pandangannya ke arah lain. Mata gue kembali tertuju kepada layar laptop, melihat huruf-huruf berjejer membentuk kalimat-kalimat yang menjadi sebuah kesatuan mencoba memberi insight kepada pembaca mengapa proyek kereta cepat ini adalah pertaruhan gengsi Jokowi dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Sesekali tangan kanan gue, ketika sedang tidak mengetik, mengambil gelas plastik Starbucks berisikan black coffee tanpa gula yang ditulisi “Kak Abdul :)”. Iya, pakai smiley. Meski terkesan remeh, gue merasa sebuah smiley di gelas plastik dapat mencerahkan hari. Mungkin karena enggak semua barista mempunyai inisiatif — atau berani — menambahkan emoticon atau bahkan kata-kata manis atau penyemangat di gelas pembeli. Jadi begitu seorang customer mendapatkan sesuatu yang “ekstra” dari pembeliannya itu, si pembeli akan merasa istimewa.

Ketika sedang fokus meratapi layar untuk kesekian menitnya, gue kembali merasakan tatapan perempuan itu. Tapi kali ini gue enggak nengok. Pandangannya dapat gue rasakan dari sudut mata kiri gue. Gue pun menjadi salah tingkah.

Kenapa dia ngeliatin gue terus? Apakah dia ingin memberi “sinyal” atau ada yang salah dengan penampilan gue hari itu?

12247790_10153106261336714_6262891670759060291_o
Starbucks 2016 planner. Foto dari Facebook.com/StarbucksIndonesia

Secara gue baru keluar jagain nyokap gue di rumah sakit beberapa hari lalu dan enggak terlalu memerhatikan penampilan. Hari itu gue memakai kemeja kebesaran, celana jins yang belum dicuci berhari-hari, sepatu lari tanpa kaos kaki (yang lo bisa bayangin baunya udah seperti apa), rambut yang mulai memanjang, poni yang hampir menutupi mata, jenggot yang belum dicukur dua minggu, dan muka kusut yang enggak bersahabat.

Rasanya pengen gue senyumin tuh cewek, siapa tahu dari hanya sebuah senyuman bisa menjadi suatu awal yang indah, bukan? Tapi gue memang orangnya pemalu — pemalu atau pemalas, ku tak tahu — gue mengurungkan niat untuk senyum. Kembalilah memasang muka serius nan gahar.

Tanpa gue sadari cetakan muka gue emang seperti ini, terkesan galak dan enggak bersahabat, sehingga membuat orang takut duluan untuk memulai percakapan. Padahal sih kalau udah kenal, gue orangnya ramah dan baik hati — menurut pengakuan sendiri ya, dan sudah dikonfirmasi oleh teman-teman dekat juga.

Selama beberapa saat itu, si cewek ini, yang juga sibuk berkutat di depan laptopnya, kembali melirik ke arah gue untuk kesekian kalinya. Dan secara enggak langsung, gue pun membalas lirikannya. Jadilah saling balas membalas.

Alam bawah sadar gue mulai mengambil rekoleksi memori lirik lagu yang bertepatan dengan moment seperti ini, contohnya lagu Arctic Monkeys yang judulnya I Bet You Look Good on The Dance Floor. Liriknya seperti ini, “Stop making the eyes at me, I’ll stop making the eyes at you. What is it that surprises me is that I don’t want you to.”

But this game has to stop, pikir gue. Salah satu dari kita has to make a move. Tapi sayang, selang lima menit kemudian gue mendapat telepon yang mengharuskan gue untuk segera pulang ke rumah. Gue pun beberes memasukkan laptop beserta charger dan Starbucks 2016 planner ke dalam tas.

Gue berdiri sambil memakai backpack seraya beranjak menuju pintu keluar. Pada saat yang hampir bersamaan gue melihat cewek tadi juga bangun dari duduknya. Finally! pikir gue. Dia akan ngajak gue kenalan — tapi gue juga merasa sebal dan malu pada diri sendiri karena enggak berani memulai duluan.

Gue memperlambat langkah gue, tapi cewek itu enggak berhenti di depan gue. Dia malah melewati gue dan langsung buru-buru duduk di kursi yang tadi gue tempati — secara di kolong meja bundar itu ada colokan listrik.

Gue hanya menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar. Cewek itu bolak-bolak ke meja lamanya mengambil tasnya dan gelasnya untuk dipindahkan ke tempat barunya. Dia pun kembali asyik mengerjakan sesuatu apapun itu di laptopnya.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Mbakjules says:

    Menatap colokan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s