Kisah Frez Cika, kontestan ‘Fit for Fashion’ asal Indonesia

Cika Darnadi berharap kisahnya dapat menginspirasi kaum ibu yang berjuang untuk kembali mendapatkan tubuh sehat dan ideal pasca melahirkan.

Frez “Cika” Darnadi sempat merasa down setelah melahirkan anak pertamanya. Usai kehamilan, berat badannya naik 22 hingga 25 kilogram. Terlebih lagi, saat itu ia sedang dirundung duka di tengah proses perceraian. Namun Cika bertekad kuat untuk bangkit dan meraih impiannya.

“Saya dulunya adalah penggemar olahraga, tapi harus berhenti berolahraga setelah melahirkan dengan proses caesar,” kata Cika kepada Rappler.

Niatnya untuk kembali mendapatkan tubuh yang ideal bermula ketika ia menonton sebuah reality show di televisi, Fit for Fashion, tahun lalu.

“Saya menyaksikan episode pertama Fit for Fashion tak lama setelah melahirkan anak saya, dan saya langsung berkata pada diri sendiri, ‘Saya harus ikut musim keduanya!’” kata mantan model dan penyanyi ini.

Wanita 34 tahun ini pun terpilih menjadi perwakilan dari Indonesia di serial televisi buatan pusat kebugaran Fitness First dan Imagine Group Entertainment.

“Berat badan saya sebelum hamil berkisar antara 48-50 kilogram. Saya adalah seorang perempuan kecil dengan lean muscles. Selama mengandung, berat saya hanya bertambah 8 kilo. Namun berat saya meningkat hingga 22-25 kilogram hanya dalam dua bulan setelah melahirkan, akibat selalu merasa kelaparan saat proses menyusui,” aku Cika.

Sebagai kontestan asal Indonesia pertama dalam reality show skala internasional ini, ia bertekad untuk mendapatkan kembali kesehatan dan tubuh yang ia impikan. Lahir dari keluarga militer, Cika tak merasa was-was menghadapi tantangan yang diberika selama proses syuting berlangsung.

Pemenang musim pertama Fit for Fashion, Citira Corrigan, memang memiliki darah Indonesia, namun ia berkebangsaan Australia.

‘Saya melakukan ini demi anak’

IMG_7068Latihan yang diuji di Fit Fashion bukan hanya latihan fisik biasa seperti di gym, tapi juga mental. Selain mental berkompetisi, para kontestan juga harus berpose di depan kamera untuk keperluan fesyen, sesuai dengan nama judul acara.

Keempat belas peserta akan dinilai oleh juri-juri yang sudah memiliki nama di industri fitness dan fesyen, seperti Louise Roe, Christine Bullock, Mitch Chilson, dan Todd Anthony Tyler.

“Saya senang menghadapi tantangan, tapi tantangan terbesar bagi saya adalah jauh dari anak perempuan saya, apalagi tak bisa mendengar suaranya,” kata Cika. Ia mengakui inilah keputusan terbesar dan terberat yang harus ia ambil.

Tak bisa bersama si buah hati dijadikan Cika sebagai cambuk untuk berprestasi, untuk melihat kembali tujuan single parent kelahiran Makassar ini. “Saya ingin melakukan ini untuk anak saya. Dia lah yang membuat saya maju,” ungkapnya.

Musim kedua Fit for Fashion akan tayang Kamis, 7 Januari, di kanal Star World dan Kompas TV. CEO Fitness First Asia Simon Flint mengaku optimistis show ini akan mendulang kesuksesan di Asia.

“Jika orang biasa ditanya, seberapa puaskah kamu dengan kondisi kesehatanmu? Kebanyakan orang tidak akan menjawab dengan angka 10,” kata Flint kepada Rappler dalam kunjungannya ke Jakarta pada Desember silam.

“Inilah mengapa Fit for Fashion sangat relatable terhadap penonton.”

Flint mengatakan akan sulit bagi penonton jika harus menyaksikan acara fitness selama satu jam di depan layar. Di sinilah peran fesyen membantu agar acara ini lebih menarik.

“Melihat seseorang menjalani transformasi diri, itu sangat powerful,” ujar Flint.

Perubahan diri ini pulalah yang ingin Cika dan peserta Fit for Fashion lain ingin tunjukkan bahwa mereka bisa melakukan suatu kebaikan bagi diri sendiri, dengan harapan membawa inspirasi bagi mereka yang menyaksikan.

‘Diabetes sangat menakutkan’

Cika mengatakan sejak terpilih menjadi kontestan, ia lebih memerhatikan asupan nutrisi yang ia konsumsi. “Usai melahirkan, nasi adalah ’sahabat’ saya ketika menyusui. Tapi sekarang diet saya lebih ketat,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa ahli gizi yang disediakan selama masa kompetisi sangat memerhatikan jenis makanan yang harus dikonsumsi oleh masing-masing konsultan, demi memaksimalkan latihan dan proses transformasi.

“Sangat berat karena saya suka makan makanan yang manis,” kata Cika. Ibunya, beserta anggota keluarga lain seperti kakek, paman, dan bibinya, semuanya menderita diabetes.
“Bahkan ibuku tak dapat hidup tanpa insulin selama delapan tahun, sebelum ia meninggal dunia. Itu menjadi motivasi bagi saya untuk berhenti makan makanan manis dan itulah alasan mengapa saya memilih gaya hidup sehat, karena diabetes sangat menakutkan,” ujarnya.
Cika Darnadi (kedua dari kanan) saat mengikuti pelatihan dalam serial TV Fit for Fashion. Foto dari Imagine Group Entertainment
Cika Darnadi (kedua dari kanan) saat mengikuti pelatihan dalam serial TV Fit for Fashion. Foto dari Imagine Group Entertainment

Cika pun mengganti kegemarannya makan makanan manis dengan buah-buahan dan sayuran. Kini di rumahnya, makanan sehari-harinya adalah ikan rebus dengan lemon dan rosemary yang dimasak di dalam oven.

Untuk sarapan ia biasanya memakan avocado sauce di atas roti gandum. Kadang diselingi dengan oatmeal. Untuk cemilan, Cika sering memasak gluten-free cookiesuntuknya dan untuk anak perempuannya. Ia juga suka meminum susu kambing yang kadar lemaknya lebih rendah dari susu sapi. Yoghurts juga tersimpan rapi di jajaran lemari pendinginnya.

Penyemangat ibu hamil

Yang terjadi kepada Cika bukanlah sesuatu hal yang jarang terjadi, khususnya terhadap kaum wanita. Tak sedikit ibu-ibu yang harus kelebihan berat badan selama proses kehamilan, atau sesudahnya.

Dan Cika pun menyadari itu.

“Jangan khawatir jika kamu memiliki perut buncit. Jangan pernah malu dengan lemak di tanganmu. Jangan sedih jika kamu kesulitan berjalan dengan tubuhmu yang besar itu,” katanya menghibur kaum ibu yang sedang mengandung.

“Itu akan menjadi tantangan terbesar untuk dilawan, tapi juga bisa menjadi motivasi terbesar untuk menjalani hidup yang lebih sehat.”

Memulainya memang sulit, tapi dengan kedisiplinan ia yakin bahwa para ibu dapat mencapai apa yang mereka inginkan.

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di Rappler.com.


Oleh Abdul Qowi Bastian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s