28, American Idol, dan Bom Sarinah

All I wanted was watching American Idol in bed, quite possibly sambil ngemil.

Jumat sore. Gue udah enggak sabar nunggu pulang kantor supaya bisa nonton re-run American Idol farewell season. Sejak pagi timeline Twitter gue udah dipenuhi keramaian calon peserta ajang kontes menyanyi yang dipandu Ryan Seacrest itu.

FYI, gue enggak segitu gilanya sama talent show yang satu ini. Tapi sekitar dua tahun yang lalu gue baru aja kecantol sama tiga juri baru Idol, Jennifer Lopez, Keith Urban, dan Harry Connick Jr. Chemistry mereka pas, apalagi dibanding komposisi juri-juri sebelumnya yang terkesan absurd dan out of place.

Januari 2013 lalu merupakan masa-masa kelam dalam hidup gue. Ada sebuah masalah keluarga yang membuat gue merasa terpuruk. Seakan gue kehilangan kaki kiri. Enggak bisa berjalan dengan baik.

Dan American Idol Season 13 menghibur gue dan untuk sejam-dua jam berhasil menghempaskan problematika hidup. Ada kalanya di kantor lama gue, gue buru-buru pulang supaya bisa menyaksikan episode terbaru. Bahkan gue nge-mute notifikasi Twitter supaya enggak ada yang bocorin siapa kontestan yang tereliminasi pekan itu.

Entah kenapa gue bisa tertarik sama ajang pencarian bakat seperti Idol, secara gue enggak bisa nyanyi. Bahkan waktu SMA, ada seorang teman — dia sendiri adalah seorang penyanyi dan udah pernah ngerilis satu single — yang pernah berkata seperti ini ke gue:

Dulu gue sempet mikir lho, Qowi, bahwa semua orang di dunia ini bisa nyanyi, sampai gue ngedenger lo nyanyi.

Jleb banget, enggak tuh?

Dan ada lagi sebuah koleksi memori dari tempat kerja gue yang lama. Walaupun gue sadar gue enggak bisa nyanyi, tapi gue hobi nyanyi. Kadang gue beranggapan kalo kita ini hidup dalam sebuah musikal, di mana setiap adegan harus ada lagu pengiringnya.

Alhasil, menyanyilah gue di setiap kesempatan. Dan ada seorang rekan kerja ekspatriat, yang mungkin baru pertama kali dengar suara gue menyanyi, dia bilang, “Oh my God, Qowi. Are you tone deaf?”

Jujur, gue enggak pernah menanggap diri gue tone deaf, atau buta nada. Gue cuma mikir kalau gue enggak bisa nyanyi, tapi dipikir-pikir mungkin emang benar kalau gue buta nada. Semakin ke sini gue semakin sadar bahwa itulah mengapa gue enggak pernah sukses waktu belajar les piano waktu kecil.

Oh ya, balik lagi. Jadi Jumat sore itu gue ingin buru-buru pulang ke rumah nonton premiere American Idol farewell season. Tapi sebelum gue beranjak dari kantor, gue dapat telepon dari orang rumah. Katanya nyokap gue masuk rumah sakit lagi — ketiga kalinya dalam empat bulan.

Langsung lah gue meninggalkan kantor dan meluncur ke rumah sakit langganan. Di IGD gue nungguin nyokap gue sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.

Dan kami menginap selama 6 hari. Selama itu pula gue tidur di sofa, kadang di lantai beralaskan kasur tipis. Dihembus oleh AC yang dingin kaya di New York pas musim salju.

Hingga Kamis pagi pekan berikutnya, gue senang. Hari itu, 14 Januari 2016, adalah hari ulang tahun gue yang ke 28.

Hari itu, nyokap gue pulang ke rumah dan kita bisa berkumpul lagi bersama keluarga di rumah di hari ulang tahun gue.

Dan gue udah bikin rencana kalau gue emang enggak mau ngerayain ulang tahun secara besar-besaran apalagi berlebihan. Di saat prihatin seperti ini gue cuma mau santai dan bisa tidur di kasur gue sendiri.

Gue yakin kasur gue juga kangen sebagaimana gue kangen sama si kasur yang udah 6 hari enggak ditidurin (Kalau istri udah marah-marah tuh, enam hari enggak ditidurin). Untung belum punya istri (eh, kok untung?).

Dan Kamis malam itu juga ada episode terbaru American Idol. Gue pun udah memvisualisasikan malam itu, gue pikir gue akan berleyeh-leyeh di kasur sambil nonton Idol, sementara nyokap gue beristirahat di kamar beliau. Gue juga udah siap-siap beli makanan kecil buat nemenin gue nonton. Masa bodoh dengan diet, kata gue dalam hati. Udah seminggu ini gue enggak pergi ke gym, dan makan gue juga sama sekali enggak teratur.

Celakanya, Kamis pagi, sekitar pukul 10:40, saudara nenek gue yang lagi menengok nyokap di rumah sakit dapat telepon dari anaknya yang kerja di daerah Sarinah.

“Mama di mana?” kata si anak di ujung telepon.

Maklum, nenek gue udah tua, jadi suara si penelepon sampai terdengar ke luar.

“Di rumah sakit di Kemayoran,” jawab nenek.

“Mama baik-baik aja, kan? Jangan kemana-mana dulu ya. Ada bom di sini.”

“Bom?”

“Iya, ini semua orang pada lari di jalan. Ya udah, nanti aku telepon lagi ya, Ma. Aku mau telepon Mas Dodi dulu (suaminya).”

Klik.

Gue langsung coba nyalain TV di kamar rumah sakit, tapi enggak bisa nyala. Dan gue beralih ke Twitter. Benar! Ada berita bom! Apakah ini hoax?

Gue cek ada fotonya. Fotonya ada banyak.Terlihat beberapa korban tergeletak di jalan di depan pos Polisi. Warga berkerumun di situ.

Gue langsung menghubungi grup WhatsApp kantor dan memberitahu ada bom. Dan ada rekan kantor yang juga udah waspada.

Langsung gue nyalain laptop dengan menggunakan kuota pulsa handphone, secara di rumah sakit enggak ada wi-fi.

Sejak itu mata gue terpaku sama layar laptop. Lupa sama nyokap yang masih terbaring di tempat tidur rumah sakit.

Dan buyar lah impian gue untuk menonton American Idol di kasur malam itu — untuk kedua kalinya.

Lupa juga kalau hari itu adalah hari ulang tahun gue. No birthday cake, no birthday greetings, nothing.

Oleh: Abdul Qowi Bastian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s