Jomblo Metropolitan

Jadi begini ceritanya. Si emak baru aja menemukan sebuah jenis minuman yang bisa membuang racun dalam tubuh. Dengan dalih agar sekeluarga sehat, emak mempromosikan temuan barunya itu ke anak-anaknya.

“Ayo, minum. Emak kan begini karena sayang sama kalian,” begitulah kata si emak membujuk ketiga anaknya. Namanya juga anak-anak, kami sempat ragu. Apalagi minuman berwarna hijau lumut itu pahit dan mengeluarkan bau tak sedap.

Belum pernah nyobain, sih. Tapi kelihatan dari raut muka si emak yang menahan napas pas menenggak segelas “ramuan ajaib” itu.

Di suatu pagi, saya baru bangun tidur ketika si emak sudah menyiapkan satu gelas minuman hijau itu di meja makan. “Langsung diminum aja,” kata emak sambil tersenyum licik.

Merasa nggak enak hati pada si emak yang sudah repot-repot, saya pun mau tak mau meneguknya. Tentu dengan menutup hidung menahan bau.

Glek, glek. Ah, habis juga hingga tetes terakhir.

Sudah aman? Belum!

Malam harinya, sepulang kerja, si emak sudah kembali memegang gelas berisikan cairan hijau itu lagi! Mata saya terbelalak. Apa? Lagi?

“Iya, dong,” jawab si emak. “Kamu harus minum 2 kali sehari selama satu minggu setiap bulannya,” jelas si emak panjang lebar.

“Mak, aku belum siap untuk berkomitmen selama itu,” kataku singkat.

“Oh, pantes sudah umur 27 masih jomblo,” kata si emak sambil melengos.

 


 

by Abdul Qowi Bastian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s