Hati-Hati Jika Didekati Cowok di Gym, Siapa Tahu Dia …

Jadi begini ceritanya. Di suatu malam, mendekati tengah malam, gue baru aja selesai ngegym setelah menjalani hari yang panjang di kantor. Kira-kira waktu itu hampir menunjukkan pukul 11 malam.

Setelah keringetan selama satu jam, gue bergegas mengganti baju di ruang ganti. Gue mencoba melepaskan baju yang menempel di badan gue dengan susah payah. Hingga tiba-tiba gue merasakan ada sepasang mata yang melirik ke arah gue.

Dan… ada seorang cowok yang tatapan matanya dingin banget menatap gue yang saat itu lagi melepaskan kaos kaki yang belum dicuci 5 hari.

Pandangannya tajam, rasanya relung hati ini seperti diiris oleh bola mata Edward Cullen yang haus darah.

Merasa kikuk, gue sontak melengos, risih.

Dia langsung mendekat dan menyapa, “Sendirian aja, Mas?”

“Iya,” jawab gue singkat.

“Nggak sama temennya?” tanyanya lagi.

Ketahuan, deh. Orang ini udah mematai gerak-gerik gue belakangan ini yang selalu berolahraga bareng si Bayu, temen kantor gue.

“Nggak,” tegas gue.

“Temennya ke mana?” dia masih keukeuh, lho.

“Udah pulang,” kata gue sambil melemparkan senyum sekilas, berusaha seramah mungkin.

“Oh.”

Berhubung udah malem, gue bergegas ingin pulang, mau langsung istirahat dan guling-gulingan di kasur.

“Buru-buru amat, Mas,” katanya lagi.

“Iya nih, udah ditungguin anak-anak di rumah,” kata gue ngawur.

“Oh, tinggal bareng temen-temen? Di daerah mana?” tanyanya penasaran.

Modus banget nih orang, pikir gue. Nanya-nanya gue tinggal sama siapa dan di mana. Dia pikir gue nggak ngerti arah percakapannya ke mana kali, ya.

“Nggak. Anak-anak saya sendiri. Saya harus ngedongengin mereka sebelum tidur. Kalau nggak diceritain, mereka pada susah tidur. Akhirnya saya yang jadi tumbalnya, Mas, begadang semalaman,” beber gue panjang lebar.

Entah dari mana muncul ide menampakkan gue sebagai seorang duda muda yang memiliki dua anak perempuan kecil yang lucu.

Gue pikir, kapan lagi ngerjain cowok yang lagi nyoba modusin gue.

“Oh, sudah menikah?” makin kepo lah si cowok ini.

“Nggak. Saya udah pisah setahun-dua tahun yang lalu,” kata gue ngasal.

“Oh, sekarang single, dong?”

Ada nada menggoda di pertanyaannya. Aduh, salah langkah nih gue, pikir gue saat itu.

“Iya, single father. Berat, Mas, membesarkan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil sendirian,” kata gue lirih.

“Kasihan,” kini tangannya udah ada di pundak gue.

Ah, gue makin sebel sama diri sendiri. Kenapa setiap jawaban gue selalu menjadi sasaran empuk buat dia?

“Pantesan, Mas, mukanya kusut melulu. Kelihatan capek,” hiburnya mencoba berempati.

Lho, kok?

Lalu dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebotol multivitamin yang langsung ia sodorkan kepada gue.

“Ini, saya ada vitamin C. Bagus lho, Mas. Apalagi Masnya kan kerja, ngegym, dan ngurus anak. Dijamin bakal lebih segar kalau minum ini sekali sehari. Kalau mau, beli 2 bisa dapet diskon 25% off,” tuturnya antusias.

Ternyata, si cowok ini agen MLM yang mencari mangsa di pusat kebugaran. Tepok jidat, deh.


 

by Abdul Qowi Bastian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s