Orang Dengan HIV/AIDS Juga Berhak Untuk Hidup

Kamu yang mengikuti tagar-tagar peristiwa di jejaring sosial Twitter pasti sempat membaca kabar tentang aktor kawakan Charlie Sheen yang membuka statusnya sebagai orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Sheen mengaku telah hidup dengan HIV selama empat tahun dan, sebagaimana dilansir beberapa portal berita, dirinya “tidak terdeteksi”. Menurut Sheen, mereka yang hidup dengan HIV tidaklah berbeda dengan penderita diabetes, lupus, atau kanker—mereka tetap dapat hidup dan tumbuh berkembang.

Saya sendiri sudah hidup dengan virus ini selama dua tahun dan, bisa saya katakan, kondisi tubuh saat ini merupakan yang terbaik selama saya hidup.

Memang, ada beberapa hal yang harus saya “korbankan”: Saya harus berhenti tidur pada larut malam, menghindari asap rokok, menjauhi minuman beralkohol, dan minum obat anti-retroviral pada jam tertentu dan tidak boleh telat apalagi alpa.

Tetapi di luar itu semua, Bung, mari saya yakinkan kepada kamu saya saat ini luar biasa sehat.

HIV bukan lagi sebuah hukuman mati—tidak apabila kamu segera mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan. Sayangnya, di negara kita ini, masih banyak orang yang berpendapat mereka yang hidup dengan HIV adalah mereka yang memang pantas untuk mendapatkannya—sesuatu yang sebenarnya sangat disayangkan.

Padahal, kita sebagai warga negara Indonesia sesungguhnya sangatlah beruntung mengingat pemerintah kita memberikan subsidi penuh untuk pengobatan HIV sehingga mereka yang terkena virus ini bisa tertolong.

Skema Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pun turut menolong para ODHA—ini luar biasa mengingat pada umumnya tidak ada perusahaan asuransi yang mau menanggung mereka yang hidup dengan HIV.

Akan tetapi, ketidaktahuan dan ketidakpedulian tentang HIV sepertinya telah menjadi sesuatu hal yang jauh lebih menakutkan daripada virus itu sendiri.

Saya tidak bisa mengatakan kepada kamu begitu banyak teman-teman atau kenalan saya yang telah menghembuskan napas terakhirnya atau kini (ketika tulisan ini dibuat) sedang bergulat antara hidup dan mati karena terlambat memperoleh pengobatan yang dibutuhkan.

Masih banyak orang yang menyangkal keberadaan virus ini dengan menolak untuk diperiksa apalagi mulai mengonsumsi obat-obatan yang diperlukan. Padahal, apabila virus ini terdeteksi sejak dini, besar kemungkinan bagi kamu untuk tidak menderita penyakit-penyakit yang dapat menyerang ketika kekebalan tubuh kamu sudah dirusak HIV.

Padahal, tidak sedikit dari mereka yang hidup dengan HIV akhirnya bisa berkeluarga dan memiliki keturunan—pasangan dan anak-anak mereka tidak perlu tertular HIV. Mungkin? Sangat mungkin. Kemajuan teknologi saat ini sudah begitu maju sehingga virus ini tidak perlu membunuh kita.

Tidak perlu takut dengan HIV, apalagi dengan orang-orang yang mengidap HIV. Sikap menyangkal, tidak peduli, dan tidak mau tahu tentang HIV-lah yang membuat banyak dari kita yang akhirnya meregang nyawa.

Sudah saatnya bagi kita untuk berhenti cuek terhadap masalah yang satu ini dan mulai mawas diri—salah satunya dengan dites. Percayalah, sekalipun kamu positif, itu sama sekali bukan putusan mati. Kamu tetap bisa hidup sama panjangnya dengan orang lain.

Hidup itu tidak pernah tanpa harapan—dan hidup itu pantas untuk dirayakan—baik untuk orang yang hidup dengan HIV, maupun tidak. ODHA juga berhak untuk memperoleh kesempatan untuk hidup.


by Amahl S. Azwar

Amahl S. Azwar adalah penulis lepas yang saat ini sedang studi di Shanghai, Tiongkok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s